Jumat, 23 Desember 2011

sore setelah hujan di bulan Desember


Di bulan Desember, tak perlu ke Eropa untuk merasa dingin. Di pesisir barat pulau Bangka ini, setiap malam anak pesisir tidur meringkuk seperti udang karena dingin. Memang tak ada salju seperti di Eropa tapi setiap desau angin malam mengundang rintik hujan terdengar di telinga, sudah bisa dipastikan..tak ada yang indah selain tidur berselimut tebal. Orang pesisir adalah jenis manusia terbiasa menikmati hangat mentari. Bahkan dengan bonus ultraviolet dosis tinggi yang menghitamkan kulit seperti arang pun sudah biasa. Tak ada yang suka dingin kecuali kelompok maling jemuran, panci dapur, sendal jepit, mengendap-endap diantara dingin dan kodok sungai yang berisik memanggil hujan.
Lelaki pesisir dewasa umumnya adalah nelayan tangguh. Mengarungi laut dengan perahu sederhana, bermalam-malam di tengah laut seperti satpam ronda keliling kampung. Laut seperti halaman rumah saja. Dikenalinya tiap gugus karang yang bisa mengkaramkan perahu, berteman taburan bintang sebagai arah. Tapi tetap saja bulan Desember bukan waktu yang baik untuk melaut. Angin bulan Desember seperti tusukan jarum-jarum pada tubuh. Menusuk ngilu.

Tapi tak ada ciptaan Tuhan yang sia-sia. Terkadang manusia saja yang tak mampu melihat hikmahnya.
Sore di bulan Desember adalah sore terindah sepanjang tahun. Seperti kata R.A Kartini ”habis gelap terbitlah terang”, setiap usai bulir hujan menyiram pesisir, matahari kuning bulat mengantung di ufuk barat. Terang, menyala, berbinar-binar. Yang selalu istimewa adalah awan putih berarak ramai di sekelilingnya. Hiburan termegah anak pesisir. Mengajak lupa pada hujan yang sendu. Ilham para pemuda yang sedang kasmaran tiba-tiba menjadi pujangga. Merangkai-rangkai kata indah untuk para gadis pesisir yang sedang dicintainya. Efek khas dari bulan Desember di pesisir barat pulau ini.. di senja yang teduh, pantai, pelabuhan, dermaga, bahkan hampir semua pesisir di singgahi muda-mudi. Sebagian hanya duduk melamun. Mereka melamun dengan khusyuk. Se-khusyuk matahari yang tenggelam perlahan di telan malam.

Seorang perempuan paruh baya duduk tersenyum di teras rumah. Menatap jauh ke arah matahari terbenam dengan warna ingatan seperti matahari sore itu. Dulu, tak ada yang lebih dia sukai selain hujan di sore hari. Jika sebagian besar orang menyukai sore yang megah dengan sinar kekuningan di ujung ufuk, dia justru sebaliknya. Ini bukan tanpa alasan.
Dan alasan itu adalah kisah tentang keberanian melawan untuk tidak kalah dan hilang.

Hidup di pesisir barat pulau bangka, menjadikanmu sulit untuk menghindari pantai dan kemilau senjanya yang mewah. Warna langit yang kuning keemasan itu selalu di rindu. Menjadi hiburan secara kolosal bagi penghuni pesisir ini. Tak ada alasan untuk tidak menyukai langit sore.

Itu dimulai 30 tahun yang lalu. Ketika umurnya 25 tahun. Perempuan muda yang bahagia. Di usia pernikahannya yang ke empat, dia dan suaminya di karuniai dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 3 tahun, dan adiknya, perempuan satu setengah tahun. Hidup sederhana di tepian kota pesisir yang sepi tetapi rapi. Masa dengan banyak harapan dan mimpi. Dia dan suami sudah merancang masa depan yang lebih baik untuk mereka berempat. Pendidikan untuk kedua anaknya, membangun rumah yang lebih permanen, merintis usaha kecil serta macam hal. Optimisme yang menyala. Hanya saja hidup tak selalu linier dengan harapan. Si director hidup selalu membuat kita terkaget-kaget dengan rencananya. Sang suami meninggal dalam kecelakaan. Meninggalkan semua mimpi dan rencana serta tangis dua anak kecil mereka.
Banyak perempuan tangguh yang pernah hidup dalam dunia ini. Sebagian tercatat oleh sejarah dan menjadi tauladan. Tapi tentu tak semua perempuan terlahir tangguh. Sebagian besar perempuan tetaplah perempuan. Sifat kodrati mereka yang perasa dan peka, terkadang membuat mereka menjadi larut dan lemah. Dalam kelemahan, apalagi yang menjadi harapan selain pertolongan dari yang lain?
Tak mudah menjalani hidup setelah kematian sang suami. Uang pensiun sang suami terlalu kecil untuk membiayai hidup mereka bertiga sementara pertolongan tak kunjung datang mengetuk pintu. Dia masih muda. 25 tahun. Tak ada pilihan lain selain mencari pekerjaan. Menjadi ibu sekaligus ayah untuk anak-anak ini.
Mungkin dia bukan perempuan yang dilahirkan tangguh dan pintar. Bukan berlian atau batu permata yang memang sudah tercipta indah untuk menjadi perhiasan. Cukup di usap saja, mereka akan bernilai. Tetapi dia berjanji akan seperti emas, berproses dengan waktu, di tempa dan dibentuk agar bernilai. Membuatnya berharga demi hidup kedua anaknya.

Sejak itu dia menghindari senja yang indah. Menghindari kesempatan untuk merenung, mengenang segala bahagia yang pernah ada sebab itu akan menyiksanya dalam kesedihan yang panjang. Dia tak mau larut. Sejak itu dia lebih memilih menyibukkan diri di dalam rumah ketika senja. Berharap senja segera berganti malam. Biar dia dapat menikmati gelap dan bersembunyi disana. Menenangkan hati dalam pekat. Melarutkan kelelahan pada malam.
dia menelan tempaan waktu dengan tangan mengenggam janji. Tak mengharapkan penolong baik hati bagi hidupnya. Pagi sampai sore dia berkerja sebagai administratur sebuah yayasan. Sore hingga malam berdagang kecil-kecilan. Menjelma sebagai mesin uang seoptimal mungkin. Pada kedua buah hatinya diletakkan semua harapan. Membekali mereka dengan senjata agar tak sulit bertahan hidup. Tak mudah menjadi ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Setiap bertambah usia, getir memandang perubahan. Bergelut dengan amarah, gelisah, ketakutan, khawatir yang sangat pada harapan hidup yang lebih yang tampak seperti kabut.

Kemenangan adalah milik mereka yang bersiap. Selain rencana, satu lagi bekal terakhirnya; tak akan mengalah pada nasib.

Waktu berlalu. Hari demi hari. Tahun ke tahun. Kerut pada wajah menjadi jejak semua letih dan usaha. Tak ada yang sia-sia dalam hidup. Semua berharga. Sekecil kerikil pun bisa merusak timbangan. Sebutir beras pun akan menjadi hitungan. Benar adanya, siapa yang menabur dia yang akan memanen. Sekarang usianya 55 tahun. Tak muda lagi.
Ini waktu memetik apa yang disemai, di pelihara dan disiapkannya. Kedua anaknya memang tak penuh seperti harapannya. Tapi Tuhan selalu punya cara membalas apa yang kita usahakan dengan sungguh-sungguh. Lebih dari yang bisa kita ramalkan.
Tentang gemilang waktu mudanya yang bahagia memang tak pernah datang lagi. Tapi ketika kita bisa memaafkan masa lalu dan membuka hati untuk kebahagia baru, kita akan menemukan bahagia lagi.
Dia duduk disana. Di teras rumahnya yang sederhana. Melihat ke langit sore berwarna keemasan. Senja yang lama tak dia izinkan mengunjungi hatinya. Kini ku paham bagaimana tubuh paruh baya itu menahan dingin bulan Desember ini. Tempaan dalam hidup menbuahkan semangat yang tak bisa lapuk dan tua. Semangat. Harapan. Itulah selimut ampuh.

Memang tak mudah memaknai hidup.
Memahaminya, adalah pekerjaan panjang bersama waktu.
Dia menarik nafas lega. Tersenyum lagi. Terlihat seperti rasa bahagia.


(selamat hari ibu, mamak ku...)

Senin, 28 November 2011

Di ujung batas


Aku percaya pada ilmu pengetahuan. Aku percaya pada perubahan. Aku percaya pada dunia yang selalu mengikuti kodratnya. Pada nilai yang selalu tak pernah konstan. Suka atau tidak suka, terima atau tidak terima, waktu terus akan berlalu. Perubahan akan terus terjadi. Tapi kau boleh memilih sesukamu. Berjalan bersama perubahan, atau diam dan tertinggal.

Alam menyediakan banyak hal untuk kita pelajari. Menjadikannya senjata, pengetahuan, yang kita gunakan untuk terus hidup. Hal-hal yang membawa peradaban dan merubah wajah dunia. Berapa harga perubahan?
absurd! Se-sakral tangis dan darah pejuang republik ini untuk merdeka tapi sesinis koruptor merampok dana kesejahteraan rakyat miskin. Seharga ribuan nyawa yang mati karena virus influenza yang tak ada obatnya ratusan tahun lalu, atau semurah Rp 1.500 perak untuk 4 tablet obat flue di toko kelontong.
Sesukamulah memaknainya.

Tapi waktu mengajarkanku banyak hal. Tak selamanya akal berguna. Tak selamanya nilai muncul dalam kalkulasi untung rugi. Masih ada hal seperti kepercayaan, ketulusan, kasih dan persahabatan yang membuatku berdarah-darah mengarunginya dengan suka rela dan bahagia. Kalau peradaban atlantis menghadirkan teknologi fantastis yang misterius, waktu menghadiahkanku para sahabat menjadi senjataku.

Aku rindu mereka. Mereka yang menghangatkan hatiku hanya dengan mengingatnya.

Pada satu sore yang aneh di pantai yang akrab, buih ombak mengiringku pada banyak ingatan tentang satu sahabat. Tentang dia yang selalu membuatku terkaget-kaget mengikuti kisah-kisahnya.
Ku renangi pantai itu. Tempat ku dan dia biasa menghabiskan waktu menikmati sinar sore. Ku ingat, dia selalu riang dengan pantai. Pantai yang selalu di rindu. Berenang lihir mudik seperti lumba-lumba sampai lelah. Lalu berbaring di pasir menyalakan rokok dan menghembuskan asapnya sepanjang nafas. Meresapkan masa lalu ke dalam dada, menjadikannya tenaga untuk masa depan yang juga tak tertebak.
Ku selalu suka saat kami meniti jembatan rajutan berbahan batang pohon kecil menuju panggung bagan tempat nelayan memancing. Berdiri di tepian bagan, merasakan deru angin disela telapak kaki. Memanggil untuk terjun ke laut yang beriak, memicu keberanian diri. Itu adrenalin. Aku kenal dirinya. Dia yang seperti buku yang sering ku baca. Tentang haru-biru, mimpi, pencarian arti hidup dan segala keriuhan, hanya saja ceritanya tak pernah berhenti. Selalu berlanjut sampai waktu yang kita tak pernah tahu Juga sekumpulan senyawa adrenalin di tiap tetes darahnya. Dia mengenggam tanganku. Melihat ke arahku, lalu mengajakku terjun bersama.Aku percaya padanya. Pada jalan, arah, kehendak, serta pilihan yang berserakan, dia akan memilihkan yang terbaik untukku. Membantu melewati batas ragu dan ketidakberanian. Kami terjun bersama ke riak air laut itu. Membantuku melewati ketidakberanian, berenang ketepian dan tertawa sampai kehabisan nafas.
Masa itu adalah emas. Masa dimana mimpi terasa tak jauh dari gapaian. Kita adalah raja untuk pilihan kita. Tak ada batas.Bersulang bersama untuk segala hiruk-pikuk. Meski kita tahu, waktu mengintai kita dengan segala konsekwensi.

Aku percaya pada perubahan.
Pada tiap detik waktu yang bisa saja merubah apa saja meski tak ada kebetulan. Semua adalah proses panjang sebab-akibat yang saling bertautan.

Tapi ketika banyak hal berubah, apakah masih ada yang tinggal dan bisa gunakan sebagai senjata?
Sore tadi, ku titi jembatan rajutan panggung bagan itu lagi. Sendirian. Berdiri di pinggir panggung bagan, merasakan angin di sela jari telapak kaki. Mengingat ragu dan ketidakberanian melihat ke bawah. Pada riak laut yang memanggil. Teringat pada dia yang mengenggam tanganku, menyakinkan semua akan bak-baik saja.
Tapi aku hanya sendirian.

Satu kawan pernah berkata, ”waktu tidaklah abadi. Kitalah yang abadi”. Ku pikir dia seorang eksistensialism tapi kini ku mengerti maknanya.

Sahabat.. waktu kadang membenturkan segala kepentingan dan perasaan. Tapi selama kita masih mampu pengingat, kenangan baik tentang kalian ternyata lebih hebat dari logika. Lebih berguna dari nasehat penasehat hukum, konsultant, motivator, sufi, cendikiawan sekalipun.
Cukup percaya. Dan tak perlu logika untuk percaya.


Aku melompat. Melewati ujung batas kemampuanku. Merasakan hal baru.
Seperti waktu itu. Seperti waktu melompat bergandengan dengannya.

Minggu, 20 November 2011

Mari tiup lilinmu, sayang..


“Selamat ulang tahun sayangku..”aku mengucapkannya sama seperti orang lain yang mengucapkan selamat padamu di facebook,twitter atau jejaring social lain, rekan kerjamu di kantor, keluargamu atau kenalan-kenalanmu yang lain.

Sayangku,..hal apa yang menarik dari sebuah “ulang tahun?”. kamu, kita, secara rutin merayakannya di setiap kali bumi berhasil mengelilingi matahari ;365 hari lewat 6 jam; yang disamakan dengan ukuran waktu 1 tahun. Selama melawati kurun waktu itu, bumi seperti menegaskan keberadaannya dalam jagat raya ini. Memastikan kembali bahwa ia ada dan masih akan berusaha mengelilingi matahari lagi, meski itu berarti harus berputar selama 365 hari lewat 6 jam lagi.
Bagaimana dengan kamu?

Putaran waktu membawamu ke usia 25 tahun. Tak banyak sejarahmu yang ku tahu, selain 4 tahun belakang. Bukan waktu yang pantas untuk memotret utuh perjalananmu sampai di titik ini. Tapi minimal, satu sisi mampu ku rekam. Mengingatmu dan merunut klausalitas jejakmu untuk menuliskan ini.

Pada sepupuku kesayanganku;vika, kami selalu berkata ”masih tentang bertahan hidup”. Tentang kesadaran bahwa hidup yang seperti pertempuran, tentang medan perperangan yang tak selalu bersikap adil dan tentang keterbatasan yang nyata. Hidup ini memang bicara tentang bagaimana cara bertahan hidup. Tapi setidaknya jika semua orang di planet ini adalah petarung, aku bukan petarung yang sendirian..berkali-kali kami saling memapah jika terluka. Bergandengan ketika kalut. Dan terkadang merayakan kemenangan bersama.

Kepadamu ku tak bisa berkata lain. Kita juga masih akan bicara tentang bagaimana bertahan hidup. Tentang kenyataan bahwa ternyata kita masih tak memiliki apa-apa, tentang jalan di depan yang terjal dan tak tertebak, tentang kecemasan yang jujur tak bisa kita sembunyikan.

Aku berharap banyak padamu. Pada ketabahan, kesabaran, kesetiaan, loyalitas dan integritas yang aku sendiri tak bisa ungkapkan.
Aku butuh kamu untuk berlari bersamaku. Di tengah hujan yang kadang bukan berisi air, tapi panah dan peluru tanpa ada tempat berlindung dan upaya selain menerimanya dengan gagah. Karena aku tak percaya takdir. Takdir adalah milik mereka yang memang dilahirkan beruntung atau mereka yang menyerah sebelum bertahan. Kita tidak dilahirkan untuk menjadi seorang yang sudah ditentukan. Satu-satunya nasib yang tidak mungkin kita elakkan hanyalah kematian. Sisanya bukanlah takdir. Tapi sebuah sebab-akibat yag saling bertautan. Tuhan memberi kita hidup, menunjukkan banyak hal untuk kita melewati dalam hidup, tapi menyerahkannya kepada kita untuk menentukannya. Kita yang memilihnya. Menyia-nyiakannya atau memanfaatkannya sebaik mungkin.

Sayangku, aku butuh mencintai kamu dengan karaktermu yang kuat..karakter yang hanya kamu yang punya. Karakter yang tak akan bisa dicuri orang, tak pudar oleh waktu justru semakin baik. Buat aku semakin mencintai itu.
Sebab yang lain tak akan berarti lama. Penampilan bisa berubah. Teman datang dan pergi. Kekuatan, kecepatan, kelenturan tumbuh dalam beberapa waktu saja. Selanjutnya bersama waktu itu akan semakin melemah, melamban dan canggung. Tentang kepandaian dan ketenaran, yakinlah akan selalu ada yang lebih pandai dan lebih tenar.

Sayangku..
Aku hanya ingin mematri kembali eksistensimu. Di siklus perjalananmu.
Menjadilah kuat. Setidaknya untuk dirimu sendiri. Berjanjilah padaku tak ada yang akan membuatmu menyerah pada nasib walaupun dunia berkonspirasi melawanmu.
Tak perlu takut. Jangan simpan ragu.
Aku disampingmu. Siap memapahmu jika kau letih.
Karena setelah itu kamu harus berlari lagi..sekencang-kencangnya angin membantumu mengejar mimpi.

Selamat ulang tahun..genapi doamu dan tiup lilin itu..”

Senin, 24 Oktober 2011

let hurt ourselves


Apakah kau memiliki benda yang paling kau sayangi? Seperti barang yang sakral bagimu, bagian dari dirimu dan menyimpan ingatan juga energi?
Aku memilikinya dan tidak hanya satu. Tanpa disadari, ku menyimpannya satu persatu. Semacam mengkoleksinya untuk kesenangan jiwa.

Benda pertama adalah selimut kumal jahitan nenekku. Selalu ada rasa tenang dengannya. Rasanya umurnya sebaya denganku. Dijahit dari kumpulan kain bekas yang tersisa dari baju, sprei, percak rumah kami yang tidak lagi terpakai. Nenekku seperti seniman. Disulapnya benda tak berguna itu menjadi selimut yang ku pakai sewaktu kecil hingga kini. Warnanya ramai sekali. Dia seperti puzle. Ada bagian yang kotak, segitiga, trapesium dan lain-lain. Kepada selimut ini aku menangis, menyembunyikan ketakutan dari ayah ketika dia marah lalu mencari untuk memukulku. Kepada selimut ini aku menceritakan rahasia kecil. Hal-hal yang akan membuat ibu membentak atau hal-hal yang membuat ayah menamparku keras.

Yang kedua adalah foto nenek. Benda yang menyimpan kenangan. Tak ada yang lebih indah dari kenangan baik bukan? Nenek adalah orang hebat. Dia tua dan renta tapi sanggup menahan derasnya bentakan ibu kepadaku. Dia tak mampu lagi membelah kayu bakar untuk kami memasak tapi mampu membentengiku dari pukulan dan gebukannya. Ketika nenek meninggal, sulit merasa bahagia. Bahagia itu adalah waktu dimana nenek mengusap rambutku dan berkata ” cah bagus, hiduplah dengan sabar dan ikhlas”. Aku tak paham maksudnya tapi ku rasa dia memintaku untuk bertahan dan tidak menangis kalau ayah dan ibu memarahiku.
Walau ku tau dia bukan nenekku tapi aku menyayanginya. Ketika aku berumur 10 tahun, aku mengerti perkataan ayah ketika aku melakukan kesalahan dan itu membuatnya marah. ” dasar anak pungut tak tau diri!”. kesalahan kecil saja, misalnya menumpahkan air minum, memecahkan gelas, minimal itulah ucapannya padaku. Lambat laun ku mengetahui kalau aku adalah bayi yang di ambil mereka dari rumah sakit. Anak pungut itu rupanya sama dengan barang yang ditemui di pinggir jalan. Menjadi milikmu dan bisa kau perbuat semaumu. Menunjukan rasa sayang dengan amarah, menjaga dengan perintah atau melindungi dengan ancaman.
Satu manusia yang bicara dengan kelembutan adalah nenek. Tanpa dia, aku merasa melalui seminggu tanpa hari minggu. Tanpa ada yang melegakan.

Benda yang ketiga adalah palang pintu depan rumah kami. Dia tak panjang. Tak sampai dua meter. Lebarnya hanya sepuluh centimeter. Dahulu, tak ada yang lebih menakutkan dari benda itu. Kalau anak-anak seumurku dulu takut pada hantu, seperti itulah ketakutanku pada benda itu. Malah lebih! Itu adalah senjata ayah untuk memukulku. Tiga kali pukulannya dengan benda itu, esok hari sudah di pastikan aku tak akan masuk sekolah. Sakit sekali. Pernah satu kali aku terlambat pulang bermain. Biasanya setelah usai sembahyang magrib dan mengaji, aku sudah harus di rumah. Tapi kali itu ku ikut bermain kejar-kejaran di halaman surau. Di rumah, ayah sudah menungguku dengan palang pintu itu. Sekali saja pukulannya merontokkan gigi gerahamku. Aku tak sadarkan diri seiring teriakan histeris nenek.

Selimut dan foto nenek ada padaku. Seiring waktu yang seperti anak panah, aku tumbuh dewasa. Terbiasa dengan amarah orangtua angkatku, menerima kekerasan itu seperti sentuhan biasa. Menikmati luka dan hantaman seperti sensasi tersendiri. Selalu rindu untuk merasa terlukai. Ada hentakan-hentakan pada aliran darah, seperti adrenalin yang berkejaran deras pada detak di nadi, memacu jantung, menikmati kesakitan. Itu sedikit-sedikit terasa nikmat. Aku menyukainya.

Sementara kayu palang pintu itu entah dimana. Ku sudah lama tak melihat rumah. Akan ku temukan dia. Benda itu adalah harta karun bagiku.
Ada 1 benda yang ingin ku koleksi. Satu benda yang juga sakral dan penting bagi hidupku. Pisau dapur ibu yang ku pakai menikam ayah. Pisau itu tajam, jadi ku tikam ayah berkali-kali agar dia segera mati. Aku membunuhnya bukan karena alasan. Dia terasa tak lagi seperti ayah yang dulu. Tak lagi menakutkan dan tak lagi memberi rasa sakit. Tugasnya sudah selesai. Dia sudah seharusnya tak ada. Kewajibanku untuk menghilangkannya. Aku suka melihatnya melotot kesakitan. Itu pasti rasa sakit yang nikmat sekali.

Aku rindu pisau itu. Rindu pada energi kesakitan ayah. Ku bayangkan benda itu ada di dalam ruang kamar sempit ini. Ku letakkan pada jendela jeruji itu. Menemani matahari pagi yang datang agar juga menyinariku dengan bayangan kesakitan yang indah.

Minggu, 23 Oktober 2011

yendra


Aku adalah gambaran dari seseorang bernama Yendra. Laki-laki. Umur 30 tahun. Ada banyak sosok yang menyenangkan dalam diriku. Pemuda yang jatuh cinta, pandai merangkai kata, humoris, pandai bergaul, ramah, punya selera seni yang baik, disenangi banyak teman. Setidaknya itu pernah ada pada gambaranku dalam ingatan orang.

Aku lahir dalam keluarga normal yang bahagia. Ayah ku seorang pegawai negeri, dan ibu adalah perempuan penyayang. Aku memiliki 2 saudara laki-laki. Aku si bungsu. Kami dibesarkan dengan kehormatan, doa dan harapan.
Tapi hidup adalah hidup. Tanpa ada seseorangpun yang mampu menebak. Jadi, berhentilah membaca ramalan zodiak. Itu semua sampah!
Ada yang berbeda dalam pikiranku. Aku membaca dunia dengan cara yang berbeda. Benar-benar berbeda. Kamu tau artinya menjadi berbeda?
Itu seperti berdiri di tengah jalan dengan pakaian badut, dan orang-orang melihatmu dengan pandangan aneh. Setelah itu, konsekwensi orang aneh adalah tercerabut dari lingkungannya sendiri.

Sebagian lebih bijak memandangku. Mereka bilang aku ”sakit”. Lebih terasa halus daripada menganggapku gila. Sakit adalah tidak sehat. Kondisi yang selalu di hindari orang. Dan penderita sakit, tak lebih dari orang yang tidak mampu menjaga dirinya. Sejak itu ku sadar, aku sudah terkucilkan.
Kawan, siapa yang mampu menolak kesialan? Kalau ini tak mau di sebut takdir, anggaplah aku dalam kesialan. Menjadi ”gila” dalam pengertian medis dan sosial. Siapa yang mau menderita? Apa kelainan berpikir dan merasa ini sudah di gariskan untuk ku? Aku mungkin memang sakit, tapi masih bisa merasa dan membedakan sebuah kesukaan dan derita. Kesukaan seperti di sayang dan dipedulikan, seperti mendengar petikan gitar yang lembut, seperti hembusan nikotin yang ku hisap dalam-dalam, seperti memandangi matahari tenggelam atau seperti perasaan ysng bergejolak waktu ku mengoreskan warna pada kanvas. Derita itu seperti tatapan sinis yang selalu membuatku takut, seperti perasaan ditinggalkan, seperti kegelisahan melihat jarum suntik saat ayah meninggalkanku beberapa lama di rumah sakit jiwa itu.

Aku adalah gambaran dari seseorang bernama Yendra. Sebagian dariku masih tinggal disana. Sekotak ingatan ikut tenggelam bersama. Perlahan tapi pasti, semakin dalam tenggelam. Sama seperti tatapan para kawan lama yang melihat sedih padaku. Itu adalah ucapan selamat tinggal. Mereka membunuhku dengan kesepian dan terabaikan.

Aku masih tetap tinggal disana. Dalam sedikit ingatan orang-orang yang mau mengingatku dan ingatanku yang semakin sedikit tentang orang-orang.Tak mengapa. Setidaknya aku akan sibuk dengan dunia dalam pikiranku. Menikmati kesukaanku dengan caraku.

Rabu, 19 Oktober 2011

tentang kekalahan



Dalam hidupnya, tak ada yang lebih baik dari sore yang hujan. Apalagi turun kabut. Langit jadi gelap gulita. Tak perlu ada sore yang mewah dengan kemilau keemasannya. Biarlah hari cepat berlalu karena malamlah yang selalu ditunggu.
Malam adalah teman. Setidaknya untuk hati dengan luka dan kepahitan. Apa ada teman yang lebih baik untuk kesedihan selain malam yang sunyi? Sore hanyalah milik para petarung. Walau hanya sekejab, merasakan sore yang indah adalah perasaan berhasil melewati hari. Bertarung dengan waktu dari pagi sampai tiba sore; si akhir terang. Mengadu pikiran dan tenaga untuk berjuang. Demi hidup. Keluarga dan harapan. Sore adalah kebahagian atas keberhasilan melewati pertarungan. Sekecil apapun keberhasilan itu. Waktu akan seperti anak panah. Melesat lurus kedepan tanpa bisa dicegah. Meninggalkan masa lalu menuju sekarang. Anak panah itu tak datang cuma-cuma. Dia bersama harapan dan akibat. Bersama mimpi atau ketakutan. Dan dia tak lagi memiliki mimpi. Sudah tak kuat bertarung. Saat ini adalah saat menerima ketakutan dan segala akibat masa lalu. Dia meninggalkan sore ketika sore mulai terasa menyakiti. Bersahabat pada gelap, menyimpan kepedihan dan semua kekalahan bersama malam.
Dia adalah pria tua dengan kisah tentang kekalahan. Tentang masa muda yang berapi-api, tentang harga pilihan yang mahal. Sewaktu muda, tak ada yang menjadi kekhawatirannya selain harapan yang tak terwujud. Tak suka menjadi kalah. Hidup adalah tanpa kompromi! Raja bagi kehendak sendiri. Diwaktu tua dia hidup dengan kesepian dan terabaikan. Semua berubah sejak 46 tahun yang lalu, perubahan besar konfigurasi politik tanah air drastis membalikkan keadaan. PKI berada pada tempat yang tersudut dan terus dihancurkan. Anggotanya di buru seperti anjing liar yang berbahaya. Kiprahnya dalam organisasi itu di pulau ini jelas menempatkannya pada posisi genting. Seperti jamak terjadi di daerah lain, dia menjadi bagian sejarah gelap republik ini. Beruntung dia tetap hidup meski setelah itu disesalkannya. Apa menariknya hidup sebagai orang yang terkucilkan? Istrinya meninggal dalam kemalangan. Disusulnya anak-anaknya yang tak mampu bertahan dalam kesengsaraan. Sebatang kara, dengan keluarga lain yang memilih menjauhinya seperti sampah. Tahun-tahun berikutnya adalah keseharian yang selalu sama. Bercocok tanam di kebun harta satu-satunya. Menjual hasilnya untuk tetap bertahan hidup.
Hiburan baginya adalah Mendengar berita dari radio. Menemukan peristiwa-peristiwa unik seperti menertawakan hidup, termasuk hidupnya sendiri. Karena tak ada kejadian baru dalam dunia ini. Semua hanya kejadian yang berulang. Cuma waktu, tempat dan pemerannya saja yang berbeda. Sebagian orang memerankan tokoh yang sama, pada kesalahan yang sama lalu menjalani hidup dengan cara yang sudah-sudah.
Dia menerima kekalahan-kekalahan itu. Hanya berharap malam bisa tetap menemani dia menentramkan sedikit kepedihan seperti dia bisa menerima kesepian dan keterasingan. Berharap waktu itu masih ada untuknya, bersama anak panah yang membawanya meninggalkan segala beban.
Sebab memandang sore pun rasanya itu terlalu mewah.

Senin, 05 September 2011

tanda bahaya


Anggaplah hidup ini seperti hiruk-pikuk ramainya jalanan. kita adalah salah satu pengendara di jalanan yang padat. Bercampur dengan para pengendara lain, dengan berbagai kendaraan yang ditumpangi pada tujuan masing-masing yang tak sama. Sesekali bersinggungan, berderetan pada jalur yang sama, berhenti pada pemberhentian yang sama, atau terjebak di trafiklight yang sama. Tak ada ketergantungan kuat antara satu dengan yang lain. Hanya saling menghargai sebagai sesama pemakai jalan demi terjaminnya kelancaran perjalanan kita. Semua terikat pada aturan main yang ada di jalan. Suka tidak suka, harus tunduk pada pengaturan yang ada. Peraturan jalan, rambu peringatan, polisi lalu lintas, agar semua tetap stabil.
Stabilitas. Dalam banyak ranah, stabilitas adalah utama. Negara ini pernah di hantui oleh pengalaman buruk otoritas negara tentang kata “stabilitas” yang bermakna tegas menindak aktivitas yang mengancam ke “stabilitas”an. Di ranah ekonomi, betapa ketidakpastian kurs juga kebijakan makro, mengancam kepentingan usahawan untuk bangkrut dan jatuh miskin. Stabilitas dibutuhkan semua bidang juga semua orang. Seperti keseimbangan penawaran dan permintaan pada kurva yang menentukan harga. Meresap pada pikiran individu, membentuk sistem tersendiri dalam diri untuk mencari sesuatu yang stabil dan menciptakan ke stabil-an itu sebagai sebuah sistem pertahanan diri. Lumrah, semua orang wajib merasa aman dari resiko, singgungan yang merusak, dan lain-lain.
Dalam pandangan individu yang bebas dan otonom, stabilitas diri membutuhkan banyak fasilitas pendukung. Kedekatan informasi untuk di olah dalam bersikap, bergaining power, perencanaan yang matang, serta senjata; berupa analisa cermat. Homo homini lupus. Peradaban ini tak merubah wajah dunia. Manusia yang satu tetap menjadi serigala bagi manusia yang lain. Stabilitas secara makro adalah keadaan yang menjamin kepentingan individu secara mayor terpelihara. Kaum minor seperti para splinter, adalah bahaya bagi mainstream!
Logika untuk berjaga-jaga mempertahan kondisi yang stabil dari ketidakpastian yang meningkat, melahirkan indikator kewaspadaan. Sebuah tanda bahaya muncul sebagai peringatan. Seperti lampu mercusuar pantai yang mengabarkan tanda, seperti rambu tanjakan untuk pengendara jalan menganti persneling. Tak berhenti sampai disitu, di kehidupan yang semakin dekat dengan keleluasaan informasi, bertuhankan ilmu pengetahuan, banyak peringatan lahir sebagai kebutuhan baru. Masyarakat sosial baru ini, butuh tingkat kestabilan yang semakin detail dan pasti. Mulai dari ramalan cuaca tiap jam, informasi jalur macet, sampai kadar zat kimia dalam kosmetik. Tak apa, itu pun baik. Hanya terkadang terasa kebangetan ketika pola konsumsi dan kewaspadaan terhadap tingkat kestabilitasan konsumsi juga diterjemahkan pada kehidupan sosial. Masyarakat mengkonsumsi tanda bahaya yang terasa terlalu berlebihan. Indikator pergaulan dibutuhkan untuk menjamin mereka bergaul dengan efektif dan tak berisiko. Diperlukan data personal seperti latar belakang keluarga, tingkat pendapatan, pendidikan, kecenderungan konsumsi, sampai kesamaan orientasi. Tanpa sadar, ini menjadikannya berkelompok-kelompok dan elitis. Penilaian pun terkooptasi semakin sempit. Pada harus dan tidak harus berbuat dengan tingkat indikator yang semakin efektif dan efisien yang ditetapkan sendiri. Apa perlu merasa indikator untuk menolong orang lain? Apa perlu para gelandangan dan pengemis jalanan jakarta diberi tanda peringatan “orang yang layak di beri sumbangan”? sampai seorang yang pernah di penjara terasa memakai baju dengan tulisan “mantan penjahat” karena tanda bahaya yang sudah di tempelkan pada dirinya lalu semua orang merasa berhak menatap sinis dan waspada terhadapnya. Seperti kaum yang dituduh komunis di paruh tahun 70an. Mereka lebih ditakuti dan dijauhi dari pada anjing liar.
Sulit memang.. setiap orang berhak merasa aman dan waspada terhadap apapun. Tapi bukan berarti harus menjadi panaroid dan berprasangka buruk bukan? Hidup ini terlalu pendek dijalani dengan ketakutan-ketakutan. Apalagi ketakutan yang salah kaprah.

Sabtu, 03 September 2011

Lelaki yang memiliki dan dimiliki kampungku


Namanya ferry.
Banyak orang mengingatnya dengan beragam ingatan. Seperti juga aku yang mengingatnya dengan ingatan tersendiri.
Ini adalah kisah tentang dia.
Sebuah kisah tentang hidup yang tak pernah tertebak.

Temanku lahir di tengah-tengah ketidakmapanan, kesemerawutan sosial yang timpang. Bapaknya seorang buruh pabrik lepas di perusahaan timah yang sewaktu itu adalah raksasa pemakan segala. Sangat berkuasa dan berpengaruh di paruh waktu 80-an. Perusahaan timah pada waktu itu adalah gurita yang mencengkram pulau. Tak ada yang bisa luput darinya. Secara makro-mikro. Dari usaha hulu ke hilir, dari besar ke kecil, bentuk produksi ekonomi di dominasi perusahaan timah. Penduduk pulau ini, adalah hambanya. Dari sekolah TK sampai panti asuhan. Dari toko kelontong yang dibina oleh perusahan, sampai pemain bola voly yang di subsidi. Tak ada yang tak punya ketergantungan terhadapnya. Untuk sebagian kecil orang, perusahaan adalah dewa pelindung yang baik hati. Seperti dewi Sri bagi petani di tanah jawa, mereka menyembah perusahaan dan meletakkan perusahaan diatas segalanya.
Yang di sayang si dewa pelindung, hidup dengan sentosa, sementara bagi mereka yang tak mendapat belas kasih si dewa, hidup bagai kasta terendah dalam pembagian golongan masyarakat hindu. Menjadi buruh parit yang menambang pasir setiap hari, atau buruh pabrik yang berteman panas api pembakaran timah. Cepat tua, pemarah dan sakit-sakitan.

Ibunya wanita santun. Tapi lemah seperti kembang putri malu. Kau sentuh sedikit saja akan hilang kuncupnya. Seperti kelahiran temanku, anak terakhir yang menuntut konsekwensi kematian ibunya.
Temanku dibesarkan dalam keluarga miskin dan cacat pula. Sang ayah yang pendiam dan pemarah. Hanya mampu menunjukan perhatian dengan larangan dan amarah. Dia tak sendirian. Dia memiliki lima saudara. Dua lahir dengan keterbelakangan pemikiran, tak mampu bertahan hidup dalam waktu lama di dunia yang terlalu menempatkan kecepatan berpikir daripada kejernihan hati. Satu lagi saudara laki-lakinya bertranformasi menjadi perempuan ketika aku SMA. Terakhir ku dengar kabar dia meninggal, masih dengan atribut transformasi ke-perempuan-annya.
Tinggal dua saudaranya sekarang, satu istri rumah tangga biasa, satu lagi karyawan kebun sawit. Tapi sejak ayahnya meninggal, dia memilih tinggal sendiri.
Sejak kecil, ferry terlihat berbeda dengan yang lain. Orang sekampung tahu, dia selalu bertingkah kekanak-kanakan. Sebagian selalu memaklumi itu. Dia besar tanpa kasih sayang ibu. Tanpa cara perhatian ayah yang tepat. Saudara-saudaranya pun tak mampu berikan itu padanya. Selalu inginkan diperhatikan, dimanja, walau terkesan konyol dan menjadi olok-olokan orang. Hanya saja, kualitas kekanak-kanakannya meningkat seiring dia tumbuh dewasa. Dia hanya sempat sekolah sampai di kelas 3 SD ketika pihak sekolah terpaksa mengeluarkannya karena tak lagi mampu mentoleran tindakan anarkis ferry yang melempari guru matematika dengan batu hingga pingsan. belakangan kami paham, pak guru itu pernah membentak lalu memukulnya. Pak guru itu salah memilih lawan. Ferry pernah membakar rumahnya yang dianggap menyimpan kesedihan, Mengali kuburan belanda yang angker di dekat kampungku, pendam-pendam cina di kampung sebelah, dan beragam keluarbiasaan ferry yang tentu saja tak selalu mampu dimaklumi orang sekampung. Kampungku yang berdekatan dengan pasar, terminal angkutan, pelabuhan bongkar muat beserta atribut kriminalitas lokal kota kecil akhirnya me infeksi ferry. Sangat logis, ferry yang sangat mudah terpengaruh akhirnya bertemankan para brandalan pasar. Resedivis dan bromocoran kelas kampung. Terkadang terlihat dia ikut dalam proyek maling kecil-kecilan. Dari maling hasil kebun tetangga, sampai ke penodongan. Sejak itu, dia memiliki nama belakang. Ferry si ”maling”, sebagai tradisi orang melayu untuk membedakan dia dengan nama ferry-ferry yang laen.
Bisa ditebak, keluarbiasaan ferry semakin fenomenal dari hari ke hari. Dia sudah terbiasa mabuk-mabukan. Pelariannya dalam ketidak dewasaan kasih dan kepedulian dari orang terdekat. Menambah satu lagi nama belakangnya. Ferry si ”pemabuk”. Ketika mabuk, ramailah kampungku dengan kelakuannya. Dia akan bernyanyi dengan berisik bersama nada gitar yang tak tentu arah. Tak perduli malam hari. Terkadang, jadilah dia bulan-bulanan para lelaki kampungku. Di gebukin sampai babak-belur. Tapi ferry semakin eksis!
Ketika ku SMA, kampungku pernah dihebohkan dengan kabar ferry yang pergi merantau. Dijual semua yang dia punya, serta ditambah dengan hasil dia menguras kebun-kebun orang di kampung. Di pergi ke jawa. Satu tujuan yang dia inginkan; menemui Nike Ardilla!
Tak berlangsung lama, tak sampai setahun dia kembali ke kampungku. Tak ada kisah yang bisa ditelusuri dari perjalanan rantaunya. Tapi dibayanganku, ku yakin tetap fenomenal.

Ferry kembali pada kebiasaannya. Pada profesi minornya. Tapi kali ini dia bersolo karir. Jadilah dia pencuri serabutan. Dari panci dapur yang lupa di masukan, mesin pompa air sumur, ayam jago, dan segala rupa. Di kampung sebelah, nama ferry sama terkenalnya dengan nama calon anggota legislatif yang sedang berkampanye. Tapi bukan untuk dipilih mereka, justru malah dicari dan digebukin. Beruntung ferry tak memilih aksi menjadi anggota legislatif saat itu. Karena akan mudah untuk orang-orang mendapatkannya.
Dalam tahun –tahun berikutnya, dia menjadi rutin menghuni penjara. Nama yang lebih manusiawi; lembaga permasyarakatan. Tapi ternyata belum juga memasyarakat kan ferry ke dalam masyarakatnya. Apa penjara bisa memberikan kasih sayang dan mengobati orang sakit hati? Pukulan serta hinaan, caci maki justru membentuknya semakin keras. Keras hati dan pikiran. Bengkok sebengkok-bengkoknya. Semakin menyimpang dari perangai umum, menempatkannya seperti sampah dalam masyarakat. Orang-orang di kampungku melihatnya sebagai perusak nama baik kampung, tanpa mereka sadar tatapan sinis itulah yang memicu perangai ferry semakin buruk. Dia hanya butuh dipedulikan dan lingkungannya menyakitinya.

Lebih dari 4 tahun ku tak lagi mengetahui kabar dan perkembangannya. Aku pergi ke luar kota. Sampai lebaran tahun ini, ku pulang kampung. Beberapa hari yang lalu, ku lihat dia dipinggir jalan. Menenteng karung besar.
Pada malam hari, ku bertanya ke pada mamakku tentang ferry. Dari cerita mamak, ferry pernah masuk ke rumah sakit jiwa. Setelah keluar dari sana, dia terlihat bersih dan gemukan serta dengan satu kelakuan baru yang mengejutkan. Entah apa dan bagaimana dunia merubahnya, mungkin ada sosok seperti madam Theressa yang mengasihi dan membasuh lukanya di rumah sakit itu,sejak itu ferry jadi orang yang lebih ramah. Semua perempuan tua di kampung ini dipanggilnya ”Nyai”. Selalu meminta maaf pada para tetua ketika berpapasan. Mencium tangan! Terkadang, di jumpai ferry duduk terpekur di surau kami. Membantu memetik buah kelapa atau hasil kebun lain, dan menyerahkannya tanpa mau dibayar! Orang kampung bingung dibuatnya. Pernah suatu ketika, dia datang ke rumahku. Bercerita kepada mamakku dia ingin pergi berlayar. Dia bilang, harus punya KTP untuk itu. Tapi dia tak punya uang sama sekali. Di beri uang oleh mamakku, dan beberapa hari kemudian dia datang menunjukkan KTP atas namanya. Berterimakasih dan akan mengabarkan kalau dia nanti berangkat berlayar. Tapi dia kunjung pergi berlayar. Mungkin masih ragu kapten kapal membawanya. Setidaknya, dia menunjukan bahwa dia bersungguh-sungguh dan bisa dipercaya oleh mamakku.
Ferry juga membuat terkejut para cukong cina di pasar. Kegiatannya sehari-hari adalah berkeliaran di pasar. Menawarkan tenaganya untuk diperkerjakan secara serabutan. Kadang, dia membantu mengupas kelapa, kadang di toko kelontong milik cina dan hal yang membuat binggung para cukong cina itu, ferry tak mau dibayar dengan standar upah minimum pekerja serabutan pasar. Dia hanya mau menerima sepertiga dari yang dibayarkan. Katanya, hanya sebesar itu yang di butuhkan dan layak dia terima. Tak membutuhkan lebih dari itu. Orang cina tak kenal perangai seperti itu tapi dengan senang hati terus memperkerjakan ferry disitu.
Perubahan ini terlalu dramatis untuk orang melayu kampung seperti kami. Semua orang di kampung ini tiba-tiba merasa tersentuh, dan memiliki orang unik ini. Anak lelaki yang sudah memperbaiki tingkahnya, polos, hidup sebatangkara, tanpa pekerjaan layak, dengan segala keterbatasan. Tetangga-tetangga mulai sering memperhatikan dia, memberi beras dan lauk-pauk, pakaian bekas, uang atau sekedar berniat menawarkannya makan bersama kalau dia kebetulan lewat di depan rumah. Tapi selalu ditolak olehnya. Dia hanya mau makan dari uang keringatnya. Satu kampung dibuat sedih dalam haru.

Dua hari pasca lebaran, tanpa sengaja ku temui dia di belakang rumah. Sibuk memilih-milih sampah, mengambil sisa kaleng bekas. Ku sapa dia. Ramah dia membalasnya. Ku ulurkan tangan sambil berkata, ”minal aidin, bang..masih lebaran kan hari ini?”
“Wah, dek.. maafkan saya. Tahun ini saya tidak bisa lebaran. Puasa pun tidak. Maklum, sering sakit-sakitan badan ini. Pikiranpun ikut tak jernih. Tak berani saya berpuasa. Tahun depan lah ya kita bersilahturahmi. Mudah-mudahan masih diberi kesempatan.”
Aku tertegun. Jawabannya terlalu hebat untuk ferry yang pernah ku kenal. ”kalau begitu naik lah dulu ke rumah bang.. makanlah dulu bersama kita”..
”Saya sedang berkotor-kotor ini. Di laen waktu lah,dek.. inilah sambilan saya. Kaleng-kaleng ini lumayan untuk dijual. Seribu lima ratus satu kilo. Buat makan saya hari ini.” sambil senyum lalu sibuk lagi memilih kaleng di tempat sampah.
Aku kehabisan kata..refleks ku ingat ada uang lima puluh ribu di kantongku. Ku sampaikan kepadanya, ”untuk beli rokok,bang”.
”..Ah, lebih baik kau berikan pada yang benar-benar membutuhkan. Saya masih bisa mengkais rejeki. Seperti ini. Atau, besok kan hari jum at. Masukkan saja ke kotak amal waktu sholat jum at. Jangan kasihkan ke saya. Tak benar-benar saya membutuhkan.”
dia tersenyum lagi, lalu berlalu sambil bersenandung kecil. Meninggalkanku yang kebingungan dengan sikapnya. Betap hati yang berubah, bisa menyisakan warna-warna indah. Aku larut dalam keharuan.
Rupanya seperti ini juga orang sekampung dibuatnya bingung. Ku berpikir ferry tak benar-benar berubah. Dia masih menyisakan ferry yang pernah kami kenal. Selalu membuat keluarbiasaan dengan caranya yag polos dan sederhana. Hanya saja, kali ini dia tak lagi membuat kami kesal dan mencacinya. Sebaliknya, rasa haru dan peduli yang dulu dia inginkan sejak kecil.
Tak diragukan, kau sudah memiliki dan dimiliki kampung ini, kawan..

Lebaran dan budaya alay


Dari hasil kajianku yang singkat (sangat singkat, Cuma merenung dalam 5 menit), kadar analisa yang lemah (tanpa kawan sharing, literatur dan data pendukung yan lengkap) dan kondisi kekenyangan makan opor daging habis sholat Ied, ku putuskan menulis ini, jadi maafkan jika terasa kurang akademis..

30 tahun menghadapi hajatan nasional bernama lebaran, belum juga merasa cukup memahami resepsi akbar yang satu ini. Diakui ataupun tidak, menjadi orang Indonesia, tak akan asing dengan lebaran. Lebaran adalah milik semua orang yang hidup, besar dan ber KTP Indonesia. Kemarin, lebih dari 20an lebih SMS masuk ke inbox, justru dari teman-teman non muslim yang mengucapkan selamat idul fitri, dan status di FB juga BBM teman-teman itu juga bernada sama. Implisit, menjadi orang indonesia, muslim atau non muslim pun ternyata menikmati lebaran dengan cara mereka masing-masing. Kalau mau melihat akulturasi dan keberagaman yang saling menghargai, inilah momentnya. Ketika lebaran menjadi hajatan nasional begini, sudah wajar moment ini menjelma menjadi kesatuan prilaku individu yang menarik. Bayangkan, budaya mudik lebaran adalah hal wajar. Tiba-tiba jakarta menjadi lengang dalam beberapa hari. Kehilangan kaum migran urbannya yang bergelombang pulang kampung. Berkat lebaran, pemimpin otoritas otonom kota-kota besar seperti jakarta, surabaya dan lainnya tak lagi perlu bersusah-susah me kampanye kan kotanya, sebab para kaum migran yang mudik adalah agen sosialisasi yang paling paten mengkabarkan kota-kota yang menjadi tempatnya mencari uang dengan efektif, dan gratis!lonjakan pengunjung kota besar pasti dimulai pasca lebaran. Desa akan semakin sepi dan kota semakin padat.
Prilaku konsumsi lebaran, bisa di urut dari hal besar sampai remeh temeh. Dari biaya tranportasi mudik, sampai produksi manisan yang mengalami peningkatan permintaan. Menjelang lebaran, hampir semua toko pakaian mengalami lonjakan pendapatan. Pasar tradisional ramai dengan pembeli bahan makanan yang butuh memasak lebih dari biasanya. Sirkulasi uang beredar naik berlipat-lipat dari kondisi biasa. Dalam jangka pendek secara makro perekonomian nasional naik berbarengan dengan inflasi yang juga merangkak mulus.
Hanya saja hidup di republik yang sudah 66 tahun merdeka ini, tidak serta merta memudahkan hal-hal bersifat publik seperti hajatan akbar ini. Dalam ranah ekonomi, dari sejak Adam Smith bicara tentang invisible hand; harga di tentukan oleh permintaan dan penjualan. Semakin banyak permintaan tanpa di barengi oleh ketersediaan barang yang cukup akan berkorelasi dengan kenaikan harga. Sedikit demi sedikit terus meningkat. Dalam bahasa yang gampang; menjadi mahal. Kecenderungan paling buruk dari kondisi tersebut adalah monopoli. Mari kita lihat satu persatu jenis ”konsumsi lebaran”. Apa ada yang tidak mengalami kenaikan harga? Tiket pesawat, naik 2 sampai 3 kali lipat! Tiket bis, kereta bahkan ojek pun berimbas (baik legal atau prilaku calo) menjadi naik. Bahan baku makanan, pakaian, semuanya serupa. Di pelajaran terdahulu yang luhur (baca:ideal) ketika invisible hand berkecenderungan akan merucut pada monopoli dan merugikan kepentingan umum, sudah seharusnya ada visible hand seperti kritik Marx terhadap Smith. Negara sebagai penguasa mutlak kehidupan bermasyarakat lah yang menjadi visble hand. Mengatur, menjamin hal-hal yang berupa kegagalan pasar tersebut mampu tersedia, menyediakannya untuk dinikmati orang-orang sebagai konsekwensi melindungi kebutuhan warga negara. Eksternalitas negatif dari pasar seperti monopoli, infrastuktur publik, keamanan adalah hal-hal umum yang menjadi pelayanan utama. Rumit memang, jangan mengatasi monopoli harga tiket pesawat, melansir liputan Kompas hari selasa tanggal 30 agustus 2011, tentang himbauan kementerian komunikasi pemerintah republik ini untuk jangan terlalu masif mengirimkan SMS dan BBM, menurut saya sangat unik. Di perkirakan ada 2 milyar sms dan 2,5 milyar menit percakapan yang terjadi diantara H-1 sampai H+1 lebaran. Dengan kondisi itu, mutlak akan terjadi kemacetan trafik. Sms akan pending dan melakukan panggilan telpon akan sulit. Pengguna hanphone di indonesia, dihimbau untuk tidak ber Sms dengan masif dan mengunakan layanan internet seperlunya saja. LOL!! Lagi-lagi konsumen yang di minta memaklumi serta membatasi prilaku. Bukan malah menghimbau kepada para operator penyelenggara layanan untuk memperbaiki layanan trafik! Unik sekali!
Mau tidak mau, hidup di negara dengan kepemimpinan dan rasa memiliki tanggungjawab yang rendah, memaksa masyarakat hidup dengan kualitas kepastian yang juga rendah. Dari ketidak becusan pemerintah menentukan hilal, ketidakpastian kapan merayakan lebaran tahun ini paling tidak berimbas pada banyaknya ketupat yang keburu basi karena di masak 2 hari sebelum hari H nya. Bisa dipastikan, karena sudah terlanjur masak besar di tanggal 29 agustus, lauk sahur mayoritas masyarakat indonesia pada tanggal 30 agustus 2011 adalah daging dan ketupat! Gara-gara hilal setitik, rusak rendang sekuali!

Aku salut untuk orang Indonesia. Yang sudah biasa maklum ini. Sekaligus bangga menjadi orang Indonesia. Perbedaan merayakan hari lebaran tetap dimaknai dengan akur dan tenggang rasa. Beberapa aliran, secara tegas tetap merayakan pada tanggal 30 agustus meski pemerintah memutuskan tanggal 31 agustus. Di negara lain, perbedaan mazhab saja, sudah biasa diwarnai dengan peledakan bom dan bunuh-bunuhan.
Hanya saja, ketidak becusan nasional ini sedikit berimbas juga pada prilaku individu yang mulai kehilangan esensi. Temanku Gandung Admaji bilang, hidup saat ini dituntut untuk lebih efisien. Ku sepakat dengannya. Hidup di era teknologi dan peradaban yang maju ini pasti mendorong pada efisiensi prilaku ekonomi dan permintaan baru yang semakin marak muncul sebagai konsekwensi hukum Say. Cuma, efesiensi tidak otomatis menjadikannya pragmatisme. Seharusnya dari sisi konsumsi, efisiensi bersanding dengan satu kata yang dekat denganya, yakni; efektifitas. Lebaran sebagai hajatan nasional yang bersumber pada tradisi islam untuk saling bersilahturahmi, konsep hablumminanass, memuncul budaya mudik. Orang berbondong pulang kampung, sungkem kepada para tetua. Para buruh migran di jakarta bahkan kadang menghabiskan uang yang dikumpulkannya dalam setahun untuk dihabiskan ber-lebaran-an di kampung. Sungguh luarbiasa! Mereka tidak bicara efesiensi untuk hal yang satu ini..efektifitas adalah utama!

Sekaligus agak risih dengan pengalaman 2 hari ini. Begitu banyak Sms. BBM, tag status, ramai datang padaku. Isinya selalu sama. Ucapan minal aidin, mohon maaf lahir batin. Kadang dengan bahasa-bahasa berlebih demi sopan santun dan keindahan redaksi. Risih, karena tiba-tiba saja kata-kata itu seperti tak bernyawa. Kehilangan esensi. Bersilahturahmi, adalah kegiatan saling menjalin persahabatan, kekeluargaan dengan cara saling berinteraksi satu dengan yang lain. SMS,BBM, FB, Twitter, adalah media yang sukses mengekspresikan interaksi secara personal untuk diketahui orang lain yang melahirkan budaya ”Alay” ketika ekspresi lebih menjadi utama dari pada esensi. Tapi ku rasa tak cukup efektif mengutarakan ketulusan yang ada sebagai nilai luhur pada budaya lebaran. Saling bertandang, menjabat tangan, menatap mata, melihat raut wajah, senyum, tawa dan airmata, lisan yang terucap secara live, kurasa tak bisa diwakili Sms,Bbm,Fb,dan lainnya. Aku tak bisa bayangkan senyum bahagia dan airmata haru mamakku tadi pagi bisa digantikan oleh sms panjang beribu karakter kata. Dia akan tetap butuh aku yang nyata, bersimpuh di depannya, meminta maaf dari mulutku sendiri.
Aku ber-empati dan salut kepada prinsip para kaum migran yang rela mudik berdesak-desakan, menghabiskan banyak uangnya, demi lebaran yang sakral. Demi ketulusan yang semakin luntur. Tak menjadi ”Alay”, tak tertular dengan pragmatisme dan konsumerism yang menjebak prilaku semakin menjadi instans. Ketulusan tak pernah instans. Selalu dibutuhkan pengorbanan untuk ketulusan.

Selamat lebaran rakyat Indonesia. Socrates sudah mengingatkan dari 500 an tahun sebelum masehi lalu;”hidup yang tak diteliti adalah hidup yang tak pantas dijalani!”

Semoga sama-sama kita bisa memperbaiki hidup.

Senin, 29 Agustus 2011

Limitless


Sejak konsep superhero muncul sebagai manusia super yang memiliki kekuatan, kelebihan dari kemampuan manusia biasa, betapa sebenarnya aku terjebak dalam pengiringan opini pembentukan karakter yang terlanjur disepakati pikiran di dalam otak.
Jadilah aku konsumen komik, dari spiderman sampai si buta dari goa hantu, dari hanoman sampai hulk. Kebanyakan si superhero ini muncul sebagai manusia pilihan dari komunitasnya menjadi antitesa bagi solusi kesalahan system. Dalam bahasa sederhana; pembela kebenaran. Si penghukum bagi yang jahat.
Apapun itu, disetiap perkembangan peradaban, superhero muncul sebagai imaji manusia untuk memperbaiki kondisi dengan kelebihan-kelebihan diatas keterbatasan si pencipta superhero itu sendiri.

1 hal yang menarik dan jadi pemikiran saya saat ini. Di keseimbangan baru abad ini, ketika individualisme dan kebebasan berekspresi menjadi pembenaran global, apakah masih dibutuhkan pembela kebenaran? Ini meragukan.
Dalam kacamata pesimis saya, ciri superhero pun bergeser ke arah bagaimana kelebihan-kelebihan super yang dimiliki seseorang itu bisa di miliki atau di tranfer kepada manusia biasa. Lalu ketika si manusia ini menjadi super, dia bisa dan berhak bertindak super untuk kepentingan pribadinya, atas pertimbangan pribadi. Ke superhero-an, sudah menjadi menjadi produk.

Tengoklah film spektakuler”Limitless” rilis februari 2011 td, di sutradarai Neil Burger yang diperankan Brandley Cooper dan Robert De Niro. Spektakuler bagi saya karena begitu cerdas menyajikan keinginan semua orang untuk menjadi super dari orang lain dengan alasan dan cara yang lebih masuk akal. Bukan karena digigit mutant, ditranfer tenaga super oleh alien, atau cara-cara konvensional lain, tapi dengan mengkonsumsi NZT; obat hasil percobaan penambah daya ingat dan re-aktive daya kerja otak!
Kalau Einstein saja, manusia dengan IQ tertinggi dalam sejarah planet ini yang sudah memaksimalkan kerja otaknya sebesar 20 %, menciptakan bom atom dan dipakai untuk meratakan nagasaki dan hirosima di tahun 1945, bagaimana jika dia bisa memaksimalkannya menjadi 100 %?! Mungkin dia akan merancang jembatan menuju bulan atau planet ini sudah di klonning menjadi 10 olehnya!

Dalam film Limitless; seorang penulis yang kering ide, miskin kreativitas, tak mampu menulis 1 paragraf yang tepat dalam waktu berbulan-bulan, mampu menjadi jenius dan menapak karir menjadi senator amerika hanya dalam hitungan bulan! Bagaimana reaksi dari obat itu bisa menstimulus daya kerja otak, mengkombinasikan ingatan paling lapuk sekali dalam otak, mengolahnya, menjadi data potensial, menyajikannya sebagai bahan pertimbangan-pertimbangan sehingga menjadi dasar pengambilan keputusan efektif dalam pilihan-pilihan hidup dalam hitungan waktu yang sekejap!

Ingat kawan.. alam dunia yang kita diami saat ini, tak butuh otot kawat tulang besi seperti gatotkaca, tak butuh bisa terbang seperti superman,.. tapi kita butuh berpikir cerdas, tepat, cepat dalam menghadapi pilihan-pilihan hidup. Kecermatan dalam bertindak, ketepatan mengambil keputusan adalah senjata utama dalam perang yang nyata! Kita hanya tak mengunakan baju perang dan membawa senjata..tapi mengantinya dengan berdasi dan mesin kalkulasi keuntungan.
Kecepatan analisa, menjadi kelebihan paling jenius abad ini yang menentukan manusia tersebut akan menjadi apa dan sekaligus berkorelasi dengan bagaimana dia akan menerima kompensasi yang diterimanya. Secara ekonomi dan sosial. Kecerdasan yang kawin dengan ambisi.. dengan kelebihan itu, sepuluh orang macam bima tapi tak jenius, tak akan menang melawan satu orang sengkuni yang briliant!

Permasalahnya hanya 1. kita tak lagi bisa menempatkan diri pada nilai luhur ”pembela kebenaran”. Meski Pramoedya ananta toer pernah bilang : ”seorang terpelajar, harus adil sejak dalam pikirannya!” jujur saja, itu mulai terasa konyol! Di kehidupan ini yang bagaikan perang, kelebihan ini adalah senjata untuk manusia lain. Guna dari senjata ini adalah untuk bertahan hidup dengan memanfaatkan ketidaktahuan orang lain untuk tetap melampaui mereka; mengambil keuntungan dari mereka.
Hidup adalah berjuang menjadi pemenang! Karena kita hidup dengan keinginan-keinginan yang telah menjadi nadi. Akan terus ada dan kita akan terus melahap semua keinginan itu sampai sepuas-puasnya waktu kita. Biarlah Budha dengan teorinya ”keinginan adalah candu yang menyiksa” shock melihat kita. Ambisi adalah seretonin didalam darah. Justru itu yang butuhkan untuk hidup yang terasa menyenangkan.. Gairah!Egosentris lah jawabnya. solusi sekaligus antitesa dari kekonyolan segala prinsip konvensional itu. siapa yang tak ingin menjadi pusat? ku rasa, hampir 7 milyar orang di planet ini menuju kesana..

Aku tak mau ketinggalan. Aku sedang berpikir, ada baiknya ku menghubungi temanku seorang apoteker untuk meracik ramuan seperti itu untukku..karena menunggu kimia farma apalagi dalam bentuk obat generik bisa beredar di pasaran dalam waktu dekat ini jelas percuma!


(Catatan di malam larut di bulan puasa 2011. Efek terlalu banyak nonton film dan keracunan obat batuk!)

Kamis, 18 Agustus 2011

dilema pemimpi


Idealnya dalam theory of choice yang menjelaskan preferensi seseorang, seorang ekonom dengan alasan menyederhanakan masalah akan menfokuskan diri pada faktor-faktor ekonomi dasar yang dapat dihitung saja. Faktor- faktor lain, seperti estetika, cinta, rasa aman, cemburu, dan lain-lain yang kesemuanya secara sadar juga menjadi faktor yang menentukan individu dalam melakukan pilihan, adalah hal yang tak bisa di identifikasi para ekonom dan tugas para psikolog sajalah yang mampu melakukannya.

Anggaplah hari ini aku meng-andai-kan diri menjadi kombinasi antara ekonom dan psikolog. Berusaha menjelaskan preferensi mikro seluruh individu di planet ini dengan sebuah rumus spektakuler, dan akulah yang akan menjadi kandidat penerima nobel ekonomi. Bukan hanya nobel ekonomi ku rasa..nobel sastra, nobel fisika, segala nobel termasuk nobel kegilaan. Aku akan memiliki intelektualitas seperti gabungan otak nya Keynes dan Sigmund Freed.. atau seperti Boediono dan Ki Joko Bodo..Ya..mungkin seperti perpaduan antara rentenir dan paranormal. Sama saja. Yang penting bisa menjelaskan teori ku ini dengan gamblang.

Dalam ranahnya, theory of choice berkembang alam banyak cabang. Dari rational of consume sampe rational of crime. Nah, nanti akan ku kembangkan rational of love. Mario teguh pun akan terpukau pada analisa ku. Aa Gym, pun terpaksa mengakui manajemen perasaan yang ku rumuskan nanti lebih actual di aplikasikan!
Sekedar rahasia kecil, sebenarnya sudah ku karang-karang persamaan matematis tentang rational of love ku itu. Hanya demi sopan santun dengan pak Ahmad Mahfatih (dosen ekonometrika ku dulu) dan Gandung atmaji, M.Ec. Dev (kawanku yang sangat ku andalkan dalam rumus-rumus ini sekaligus objek penelitianku yang ternyata sedang sibuk bermetamorfosa menjadi manusia gaul di belantara metropolitan jakarta sana) terpaksa tidak ku sajikan disini. Nantilah, kawan..pada waktunya akan ku beberkan!

Tapi hal yang paling membebani pikiranku sebenarnya justru bukan pada rangkaian faktor-faktor dependen preferen. Begini kawan..dalam keseimbangan kekinian ini, tahun 2011 ini, adalah era dampak budaya dari abad informasi. Tak memiliki hubungan langsung memang dengan variabel yang ku teliti, tapi dunia informasi yang kasat mata melebur dengan material uang! Modal intelektual dan budaya industri muncul ke permukaan! Nah..agak mengerikan bukan? Baru kemarin, kawanku Aprio Rabadi mencanangkan gagasan lama kita untuk menbentuk Bank Dana yang kita gagas sebagai dana talangan untuk modal usaha dan dana sosial. Tiba-tiba saja terasa betapa langkah ini terlambat sekali. George soros sudah kemana-mana, aku dan temanku baru melek dan melihat ketertinggalan kita.
Ketika nanti rangkaian pilihan preferen ku yang notabene pasti akan menjelaskan willing individu memilih dan bersikap ini bersentuhan dengan budaya industri (yang memang sudah bersentuhan tanpa disadari) miliknya para pemodal, bukankah berarti akan membuka peluang produk-produk baru yang hanya menguntungkan mereka-mereka saja?hukum Say masih tetap konsisten; penawaran menciptakan permintaannya sendiri! lagi-lagi kuncinya adalah informasi yang terlanjur memamah biak melahirkan keinginan-keinginan. Aku, temanku dan semua hanya akan menikmati apel beracun seperti adam-hawa. Lalu apa keuntungan bagiku?

...
Lebih baik berhenti berandai-andai..sepertinya sudah sebaiknya aku tidur.

Apa hal terbaik yang pernah kau miliki?


The game plan. Sebuah film karya andy fickman keluaran walt Disney yang diperankan oleh Dwayne ‘the rock” Johnson, adalah sebuah yang film sederhana. Alur cerita dan flot nya hampir mengalir dengan kemampuan ditebak oleh penonton. Bagaimana seorang pemain football profesional yang ”keras” harus menghadapi seorang anak perempuan yang tiba-tiba saja ada di depan pintu rumahnya. Menemukan ballet yang berbeda dengan spirit kebiasaannya sebagai seorang atlit dan menyadari menjadi seorang ayah lebih berarti dari dirinya sebelumnya. Sebuah pertanyaan yang akhirnya dijawab sendiri olehnya bahwa hal terbaik yang di pernah miliki adalah menjadi seorang ayah dari anak perempuan manis, dan tidak akan merasa kesepian dengan menjadi bersama.

Terlepas dari banyak parameter bagus tidaknya sebuah film, kadang hanya dibutuhkan fell yang mampu dirasa ketika kita menontonnya. Film sebagai tontonan yang mampu membawa pikiran sadar kita untuk diresap kedalam memori otak dan mengurainya menjadi pemahaman yang lebih baik. Jika itu adalah nilai luhur, itu akan semakin tertanam sedalam-dalamnya dalam hati. Jika itu adalah penggalan kisah hidupmu, maka itu akan semakin memantapkan kenangan indah itu untuk menjadi kenangan yang tak terlupakan.

Apa hal terbaik yang pernah kau miliki?
Tak mudah menjawabanya.. sesuatu harus menjadi masa lalu dulu, baru kemudian dikenang sebagi yang terbaik atau terburuk. Diantara tumpukan foto koleksimu, dan buku catatan harianmu pun tak mudah menentukan mana hal yang terbaik. Menurutku, tak bijak memilih hal terbaik yang pernah kita miliki seperti memilih juara dalam kompetisi. Sesuatu terbaik yang pernah kita miliki adalah sebuah takdir. Dia ada untuk membuat kita merasa lebih baik. Mnejadi lebih hebat dari kita sebelumnya. Sesuatu yang pernah ada karena ditakdirkan memang untuk melengkapi.

Sudah kau temukan hal terbaik yang pernah kau miliki?
Beruntunglah kalau kau belum menemukannya..karena hal terbaik itu ternyata masih ada sebagai hal yang nyata dalam hidupmu. Tidak berupa masa lalu, kenangan, sesuatu yang sudah berlalu di hidupmu dan baru kau sadari sebagai hal terbaik dalam hidupmu.
Dia mungkin berupa orang tua yang menyayangimu dengan sangat.. saudaramu yang selalu hangat, cerewet, penuh kasih, dan memilikimu seperti dirinya sendiri. Mungkin dia adalah kekasihmu yang rela menukar nyawanya untuk kebahagianmu, atau para sahabat terdekatmu yang selalu ada menawarkan pundaknya ketika kau bersedih, yang selalu mengulurkan tangan tanpa kau minta ketika kau terjatuh.
Jangan jadikan mereka itu sebagai hal terindah yang pernah kau miliki..tapi hal terindah yang masih, dan akan tetap kau miliki!
Tak ada salahnya jika kau baru menyadarinya sekarang. Bahwa mereka adalah penting untukmu. Di titikmu berdiri sekarang, coba hitung berapa banyak cinta dan kasih yang sudah kau terima dari mereka dan bagaimana kau menghargainya.
Rawat dan pelihara mereka seperti kau menjaga jiwamu. Karena tak ada yang lebih menyakitkan ketika kau sadar.. mereka telah berlalu.

Selasa, 16 Agustus 2011

Rational Choice


Di mejaku, ada tumpukan berkas setinggi 30 cm yang seharusnya segera di periksa. Laporan-laporan yang seharusnya di olah menjadi laporan lagi. Laporan dan laporan, adalah rutinitas jamak dalam kehidupan berpemerintahan. Tuntutan birokrasi bernama akuntabilitas. Entah sebuah akuntabilitas untuk apa dan siapa. Untuk kinerja pejabat agar dinilai bagus dan dipilih lagi di bursa pemilihan, atau untuk indikator-indikator tujuan formal yang terkesan dipaksakan agar menjadi wacana mampu melayani dan mensejahterakan masyarakat.
Hidup di negara ini, memang banyak hal menjadi tak becus ketika di kelola oleh pengatur kehidupan bernegara; pemerintah. Dari beragam pilihan dalam siklus polybius tentang pemerintahan, entah kenapa berhenti kepada demokrasi. tapi sudahlah..kalau ini adalah kehendak zaman.

Berbaris dengan beberapa jiwa yang memang tak banyak, di tambah legenda keluarga tentang kakek dari ibuku yang sering sekali menjahit sendiri pakaian seragam polisinya yang robek tanpa menunggu jatah dari negara, menangkap penyelundup timah tanpa dukungan biaya operasional, dan kisah tentang kakek dari bapakku yang hampir setahun ikut berperang selama agresi militer belanda, menikmati desingan peluru ditelinga, memaknai hidup dan mati hanya berjarak setengah inci dari kepala tanpa harapan mendapat gaji apalagi mendapat bintang jasa, ku sambut uluran untuk membenahi dan mengabdi pada urusan-urusan bernegara.

Di sepersekian detik memandang laporan dengan malas, ku berpikir ulang kenapa aku duduk disini. Ada perasaan malu dengan para pendahuluku. Para leluhurku merawat negara dengan hati dan sikap. Bagaimana denganku?
Kakekku tercinta, cucumu duduk disini di waktu dan tempat yang lebih nyaman dari kalian.tanpa harus menjahit sendiri seragam dinas, tanpa ketakutan peluru musuh yang mungkin saja menghujam dada. Aku duduk di kursi empuk dengan pendingin ruangan, dan teh hangat setiap pagi yang selalu ada di atas meja kerja. Hanya saja, kalian tak di serang dengan banyak pilihan, godaan kemalasan dan korupsi!

Rational choice; lebih mudah dipahami sebagai memaksimalkan keuntungan/utility dan meminimalkan usaha sudah sangat fasih di pahami oleh sebagian besar pegawai negeri. Seperti koruptor yang menghitung resiko tertangkap begitu kecil dan mudah untuk kasusnya di selesaikan dengan uang, mengapa harus ragu untuk memanfaatkan keuntungan-keuntungan sebagai pegawai negeri untuk kepentingan pribadi dari pada berpikir keras dan memiliki patriotisme sepertimu?
Negara tak lagi berperang,..
Teman sekantorku contohnya, dia adalah orang yang disiplin. Masuk kerja jam setengah 8 setiap pagi dan pulang kantor jam 4 sore. Selalu tepat waktu. Selama waktu kerja, tak perlu rumit memikirkan program kegiatan, ikutan saja dengan perintah atasan, bekerjalah seperlunya, pasti horarium kegiatan juga akan di terima. Toh, inisiatif tak diperlukan dan tak memiliki nilai tambah. Asal gaji tetap diterima, asal golongan dan jabatan tetap naik.Lebih baik memanfaatkan waktu santai di kantor dengan mengelola bisnis paruh waktu yang lumayan prospektif!jelas-jelas memiliki ekspektasi usaha dan kans profit!sembari memelihara hubungan dengan para pihak penyedia barang dan para kontraktor sebagai kolega, jelas lebih empuk lagi. Komisi proyek dimana-mana! Maksimalisasi keuntungan!
Siapa bilang mental pekerja di pemerintahan dan perusahaan swasta berbeda? Selain kompensasi, kompetensi keilmuan dan penghargaan terhadap kinerja yang rendah pada pekerja pemerintah, selebihnya tak ada beda! Mental pekerja pemerintah juga memiliki daya saing. Hanya saja daya saingnya lebih kepada bagaimana mencari keuntungan pribadi! Secara insting, individualisme juga tumbuh di pekerja pemerintahan. Tak ada beda dengan swasta.
Sebagian besar mereka duduk di kantor ini memang dengan tujuan utama mencari uang. Dan mengapa memilih bekerja sebagai pegawai negeri? jangan kau samakan degan spiritmu menjaga bangsa.. Mereka menjadi pegawai negeri karena ini adalah pilihan paling mudah dan rasional! Bisa kerja sesantai mungkin, selamat, karena seumur hidup di tanggung oleh negara, punya peluang waktu untuk membangun usaha sampingan, dan akses dengan pengambil kebijakan menjadikan mereka seakan-akan secara sosial warga negara yang lebih tinggi dari masyarakat umum. Nyaman sekali!

Ku tau kalian sebagai pendahulu akan miris.. semiris ku melihat kain bendera yang lusuh di halaman kantor, sementara mobil-mobil dinas keluaran tahun terbaru terlihat terlalu mengkilap dan mewah berada dibawahnya.. negara memang tak lagi berperang dengan penjajah asing.. Tapi negaramu dikerumuni oleh para pengkhianat!

Tumpukan berkas setinggi 30 cm ini semakin terlihat menganggu. Baiklah..akan ku kurangi ketebalanmu dengan memeriksanya. Maaf sudah membuatmu menunggu.

Siapakah idolamu?


Pertanyaan ini muncul malam ini ketika ku kehabisan buku bacaan sebelum tidur (Bukan sok dengan kebiasaan intelek, tapi sedari kecil ku tak punya teman tidur seperti boneka, atau mainan-mainan yang bisa diajak bercakap ”selamat tidur”, selain buku).mati gaya, ga bisa tidur, tapi pikiran di kepala masih terang berpikir tentang banyak hal.
Mari jujur kawan..hidup di tahun 2011 dengan berbagai keseimbangan kekinian, ku rasa tak umum kalau kamu mengidolakan madam teressa, soekarno, mahatma gandi. Mereka terlalu “suci” dan terasa jauh untuk generasi sekarang!
Mengapa pertanyaan ini penting, karena menurutku sebagai konsekwensi manusia yang berimajinasi dan bercita-cita, sosok idola dalam hidup lah si bintang impian yang ingin dituju..setidak bagi anak-anak yang butuh idola (sewaktu kecil ku mengidolakan spiderman, dan selalu berkhayal aku lah peter parker!), dan hal yang disepakati dimasa kecil, ketika itu sukses akan tetap terbawa ketika dewasa. Benar kan?

Begini, kawan..soalnya persoalan idola ini ternyata secara de facto cukup mengagetkanku. Betapa kesadaran atas hidup di era jejaring sosial yang dekat seperti denyut nadi sendiri, dan kita bebas mengekpresikan sikap, pikiran termasuk kesukaan dan ketidaksukaan lewat media seperti facebook, tweet,dan lain-lain ternyata benar-benar menggugah orang lain untuk bersikap yang sama termasuk mengidolakan dan tidak mengidolakan hal yang sama!
Mungkin ini klise tapi bagiku lucu dan mengenaskan!
Ingatanku tentang hal ini surut pada masa ke masa.Di kala SMA, ku teringat ada temanku yang memaksakan badannya kurus kering, bergaya hippies,sampai ikut menghancurkan gigi depannya dengan kikiran hanya karena ingin seperti Bim-bim Slank! Dan ketika bim-bim tidak lagi tampil dengan gigi seperti itu, tak ada juga alasannya untuk tidak memakai gigi palsu. Temanku, si wawan sangat mengilai Iwan fals! Bukan saja karyanya tapi juga sejarah hidupnya, sampai hal kecil-kecil yang tak diketahui umum dan tersiar media. Jadilah dia si wawan fals!bergaya dan berbicara dengan intonasi sedekat mungkin dengan idolanya!aku Cuma berharap anak laki-lakinya nanti bukan lahir dengan nama galang rambu anarki dan mati muda karena overdosis.
Fakta berlanjut ke masa kuliah. Ketika ernesto guevara banyak ku temukan di dinding kamar kost mahasiswa. Tak rugi memelihara kumis dan jambang. Karena ada saja mahasiswi yang akan mengajakmu kencan. Mereka akan bilang kmu mirip si Che-nya mereka.tak peduli kamu adalah aktivis kampus yang rajin ikut demostrasi dan telat lulus dengan idealisme independence-nya atau memang mahasiswa pemalas yang lebih hafal merek kondom.
Dan di barisan para mahasiswi ekstrim,..huuft..(aku memang terpaksa menarik nafas ketika menceritakan mereka) adalah intelektual genius bagiku. Sebagian mereka yang menolak dominasi pria dan menamakan dirinya feminimism, mengidolakan ayu utami dengan 10 + 1 alasan tidak menikahnya yang spektakuler!(jadilah mereka salah satu kelompok perempuan yang tak pernah bisa ku tembus!)

Pada tahun-tahun terakhir ini yang penuh riak dan keseimbangan-keseimbangan baru seperti titik equlibrium pada kurva permintaan dan penawaran yang selalu berubah-berubah, semakin banyaklah idola-idola baru yang muncul di dunia ini dengan daya tularnya yang tidak bisa ditebak. Hebatnya siapa saja tiba-tiba juga bisa tampil menjadi idola bagi orang lain. Media seperti stasiun televisi dan media publik lain bertanggungjawab terhadap hal ini. Mereka mencetak idola-idola prematur mulai dari pengamen jalanan, pemain bola, polisi lalu lintas sampai ke tukang lipsing jadi idola yang gemerlap! Lalu, semua orang berlomba jadi idola! Tentu hal ini menjadi kompetisi bagi idola-idola yang sudah ada sebelumnya untuk mempertahankan status quo mereka. Banyak jalan yang digunakan, tapi yang paling jamak adalah melahirkan gosip untuk tetap menjadi trend center!
Inilah keseimbangan baru di dunia. Idola tak lagi lahir dengan nilai-nilai luhur yng pantas di idolakan! Cukup punya sisi menarik dan ajak media mengeksposnya. Poles sana-sini, jadilah idola! Tidak rumitkan? Seperti briptu norman yang pantai meniru artis india, kamu pun harusnya segera mengakrabkan diri dengan video rekaman untuk bergaya meniru lalu upload ke youtube..siapa tahu banyak yang akan suka..untung-untung ada produser yang mau mengkontrak 1 album atau tawaran iklan, atau main sinetron denganmu! Jalan menjadi idola semakin lebar!

Pertanyaan berlanjut ke pertanyaan yang lebih fantastis..kamu mau menjadi idola yang seperti apa? Ayo kawan..jangan mau ketinggalan! Gunakan imajinasimu!tak apalah berpikir keras sekarang..asal kau punya 1 mimpi, tiketmu menjadi idola. Siapa tau nanti kau adalah idola ku..aku kebetulan tak lagi bisa mengkhayal. Barusan, aku minum obat tidur..khayalan dan mimpiku sudah ku tukar dengan tiket kosong.
Besok, akan ku jumpai lagi dunia dan mencatat hal baru yang menyenangkan dan lucu. Termasuk para idola baru.

Selasa, 05 Juli 2011

Pada bayangan kaca


Pada bayangan kaca, ku kenali perubahan. Ada keriput kecil pada wajah. Di bawah mata, dan kerut kening ini semakin terlihat. Samar memang, tapi mulai menyadari kenyataan aku sudah semakin tua. Sudah tidak lagi mampu menawar kesalahan dengan senyum sederhana.
Pada bayangan kaca ku bertanya kepada diri sendiri. Siapa aku sekarang? Sudah berapa jauh aku berjalan? Sudah berapa banyak kemenangan dan suka cita yang ku dapat?
Pada bayangan kaca,..disana semua ingatan. Pada angkuh hati dan penyesalan.
Semua seperti tercerabut keluar dari kepala dan hati. Masuk ke dalam kaca di depanku, menyajikan kenangan, masa lalu, seperti slide persentasi. Kadang terasa dramatis, seperti film korea dan akulah pemeran utamanya.
Di titik pertemuan mata pada kaca, ku hentikan nafas. Tersadar,..tentang kekecewaaan dan kekalahan. Tentang sedih yang pernah singgah, tentang harapan yang tak pernah tercapai. Pada bagian tertentu yang terasa pahit untuk dilihat. Ketika bagian semua kekalahan di himpun, betapa aku tak butuh sutradara handal untuk menatanya. Itulah kesedihan sempurna.
Apa namanya untuk kesedihan yang sedih sekali?
Seperti berdiri di sebuah acara pemakaman yang memilukan. Jam berdetak tapi waktu seperti tak mau bergeming. Matahari terbit dan tenggelam tapi mendung tak beranjak.
Dimana pergi suara?
Bila pernah ada suara kini hanya keheningan. Yang dulu utuh kini hancur. Berkeping-keping.
Aku tak tahan!

Tarikan nafas panjang, merubah tanyangan. Setika senyum getir pada bayangan kaca terlihat, slide menampilkan segala kegelisahan yang tampak semerawut dengan ambisi. Segala pertimbangan. Segala ego, logika, ambisi dan gegap tawa. Aku lah sang antagonis yang manis! Ku lihat hati kecil terpuruk sedih di pojokan ruang. Dia terkucil dan sendirian.
Kadang hati memang harus direlakan terkucil kan? Karena dia terkadang tak selalu layak di dengar dan di tempatkan terlalu tinggi untuk situasi yang menguntungkan!
Ku tau, saat itu aku hanya melakukan pembenaran. Pledoi palsu!
Tak sanggup membohongi diri!

Ku ambil sebatang rokok, membakarnya. Menghisap dalam-dalam. Penuhi paru-paru ini dengan nikotin dan tar. Seperti mengisi amunisi untuk berhadapan lagi dengan diriku yang sebenarnya.
Tak bisakah kau bekali dengan ingatan yang lebih baik?
Ku pejamkan mata. Selama mungkin. Sekedar menguatkan diri untuk siap melihat lagi.

Ketika mampu menyimpan semua luka dan kekalahan, setelah mampu memahami kekeliruan dan tulus memahami masa lalu, orang akan mampu lebih baik. Mungkin itu yang ingin ditunjukan bayangan pada kaca padaku. Raut pada kaca lebih segar dari sebelumnya. Aku yang terlihat lebih sedikit bahagia tanpa himpitan beban. Tercerabut lagi dari hati, dan kaca menampilkan tayangan baru. Tentang bagian dariku yang ternyata ada dan selalu menjadi energi positif. Ku lihat senyum ramah ibu. Tatapan bijak bapak, keceriaan para saudara dan kerabat. Sahabat yang datang berganti menepuk pundak. Kekasih hati yang mengenggam jemari. Ah, sesak hati.. pergilah menjauh!

Pada bayangan kaca ketemukan senyum yang hilang. Senyum yang akan ku bawa sebagai pengawal hari.
Kerutan pada wajah tak lagi berarti. Mereka adalah penunjuk waktu. Sudah di jam berapa aku sekarang. Tak akan ada sesal dan kecewa. Kerut ini adalah buku diary tentang seberapa banyak malam yang ku habiskan memandang bintang. Berapa banyak tawa dan kebahagian yang ku temui dalam hidup. Tidak ada yang bisa membayarnya. Takkan terbayar oleh apapun.

Pada bayangan kaca, simpan getir dan segala penghalang langkah itu tetap ada padamu. Aku tak membutuhkannya meski aku akan mengunjunginya sesekali waktu untuk mengenali diriku lagi.

Rabu, 15 Juni 2011

Hujan Panas


Aku tak tau definisinya yang benar. Secara literatur, epistemologi bahasa dan penjelasan kejadian perubahan iklim seperti pakar cuaca, tapi ku rasa semua orang di Indonesia mengenal hujan panas. Hujan yang seperti salah tempat. Hujan yang tak datang dengan seragam utuhnya; mendung gelap, udara yang dingin juga petir dan guntur yang umumnya muncul seperti adegan pembuka hujan tiba. Hujan panas datang tanpa itu semua.
Pagi ini tiba-tiba suara gemuruh benturan air hujan di atap datang membinggungkan. Itulah hal yang paling menarik dari hujan ini panas! dia datang tiba-tiba tanpa di duga! Bergerak perlahan, kemudian semakin cepat, memaksa udara menguapkan panas pada jalan dan tanah menjadi lebih sejuk. Langit tak mendung, tapi hujan ini turun deras! Basah dimana - mana. Orang – orang berlari menepi, berteduh darinya. Hiruk pikuk dalam kabut yang mulai terbentuk, mengaburkan pandang dengan benteng rintiknya. Aku melihat warna yang dingin. Sisi raut hujan yang mulai ku kenal. Dia tetaplah hujan yang tau.
Betapa aku menikmati hujan. Aku (lagi-lagi) tak tau epistemologi bahasa dan penjelasan kejadiannya, tapi ketika hujan datang mengurung dalam keterbatasan jarak dengan deras rintik hujan, aku menjadi berbeda. Hujan selalu datang membawa kenangan. Ingatan yang sudah kita simpan dalam-dalam, datang lagi mengunjungimu. Sekedar mengingatkan semua warna yang pernah ada. Segala haru biru, kemenangan, gelak tawa dan kehilangan. Kehangatan, perih hati, kepatahan juga sebuah rindu yang dalam. Seperti harmoni yang sebenarnya ada di dalam pikiran, rintik hujan mengalunkan nada yang tak terbahasakan kepada jiwa. Lagu yang selalu ada dalam hati dan hidupmu, yang hanya kau yang tau, mengalunkannya untuk jiwamu. Membiarkanmu hanyut menikmatinya. Suasana ini mengatur kenangan dan angan seperti mengarsipkan file berdasarkan abjad. Rapi sekali! Seperti sutradara mengatur scene adegan, seperti dirigent pemandu sebuah orkestra. Aku dibuainya dalam khayal!
Kadang hujan adalah seretonin yang memacu senyawa dalam darah untuk bereaksi memicu rasa eforia berlebih pada otak. Seperti ganja yang membuat tertawa, seperti extacy yang membuatmu heboh dalam gairah meski hujan hanya memicumu untuk merenung dan melamun, dia merawatmu dalam kesendirian yang khusyuk!
Hujan panas memang berbeda. Mungkin karena hadirnya yang memang prematur dan tak cukup kuat menjadi hujan yang konvensional, dia tak pernah lama. Dulu ketika kecil, di kampungku orang selalu berkata hujan panas membawa berita bahwa ada yang meninggal. Langit mengirimkan rintik hujan itu untuk mengiringi kesedihan orang yang ditinggalkan. Hujan panas adalah pertanda. Bahasa langit untuk sebuah kejadian.
Hujan panas ini juga adalah temanku. Sekental firasat, dia selalu datang di saat-saat yang tak terduga. Pada saat aku memang membutuhkan sesuatu dan hanya dia yang tau. Pada rintik terakhirnya ku titipkan lamunanku padanya. Berharap mampu berhenti menjadi lamunan.
Jadikanlah itu nyata untukku, langit!
Hujan ini berhenti. Bersama matahari siang yang semakin terang. Ah, matahari.. janganlah menggodaku dengan sinar itu. Aku tau, aku masih punya banyak waktu dan harapan bukan? Terima kasih untuk sinar itu. Sangat menyadarkan.
Untuk hujan yang seperti kasih, datanglah lagi disaat kau lihatku butuh kau lindungi. Rawat aku...”

Jumat, 10 Juni 2011

mari bersulang,kawan.."




Di catatan editor Gunung Jiwa karya Gao Xinjian, konon, ada empat jalan menuju “kesejatian”: agama, filsafat, sains dan sastra. Para pencari kesejatian sejak dulu memilih jalan setapak mereka masing - masing. Ada yang berhasil dan banyak yang tak kunjung memperoleh apa yang mereka cari.
Aku mengenali mereka. Ada disekitarku. Menyenangkan rasanya mengamati dan memelihara mereka. Ku memiliki juga beberapa teman pencari yang berbeda. Bukan lewat empat jalan ”konvensional” yang sudah berabad-abad menjadi panduan sekaligus ”arah” tujuan, tapi lewat jalan lain yang berbeda.
Satu dari temanku itu adalah si pengelana. “Tujuh milyar manusia di planet ini, dengan cara apapun, dengan pola apapun, sadar ataupun tidak, semua mencari kedamaian. Ketenangan hati, bahagia yang paling hakiki di dalam hatimu. Yang hanya kamu yang tau” ujarnya. Menjadilah bahagia, tanpa sekat. Ruang dan waktu sebenarnya tak ada. Kita lah yang ada. Konstan. Ruang dan waktu lah yang justru melengkapi. Temanku itu ada dimana – mana yang dia suka. Mencari ’sejati” diri baginya. Jiwanya lepas, tanpa sekat norma, menikmati warna dunia dan segala hiruk pikuk sebagai pelengkap diri. Jadilah dia bahagia dalam setiap langkahnya. Menikmati dunia yang terus berjalan tanpa terasa mengganggunya. Karena dia tak terlibat dengan hiruk-pikuk itu. Dia adalah penonton. Dan sangat menikmati kisah apa yang disuguhkan dunia! Kadang dia ikut menangis melihat roman, merasa tragis memandang kekerasan, berdansa dengan para hedonis di pantai kuta sambil mengisap ganja. Terakhir kali ku terima kabarnya, dia sedang bergembira mengusap seekor komodo dragon dewasa di habitat aslinya! Oh temanku terkasih, semoga predator ganas itu memiliki hati dan tak menganggapmu menu makan siang karena aku berharap kau masih menularkan kebahagianmu untuk di lain waktu.
Satu lagi temanku adalah seniman. Seniman bukan sebagai pekerjaan. Bukan hanya status di KTP dan hidup dengan segala fasilitas akomodasi publisitas ke artisan. Dia adalah seniman untuk hidupnya. Aku kadang heran melihat selebriti di tv yang hanya bisa lipsinc dan merumpi atau memerankan iklan produk di sebut seniman? Mereka bahkan tak memiliki jiwa. Tak bisa memilih antara indah dan tidak, mungkin tak bisa mengeja kata SENI! Tapi sudahlah, bukan wilayahku untuk menghujat mereka. Sudah banyak yang mewakili.
Temanku si seniman ini adalah tipikal manusia jujur. Terhadap dirinya, dan tentang segala rasa yang dia rasakan. Kamu akan tau seperti apa perasaannya saat ini ketika dia menari, bernyanyi, melukis, berpuisi, memainkan instrument, dan lain-lain. Tak ada yang lebih indah daripada membahasakan perasaan dengan jujur. Kata Soe Ho Gie; ”Apa ada yang lebih indah dari membahasakan kebenaran?”. hidup adalah kejujuran. Menikmati hidup dengan dada terbuka. Tak takut pada ketakutan. Baginya ketakutan itu tak ada kecuali ketakutan itu sendiri! Kalaupun ketakutan itu terasa, mari kita menikmati ketakutan!
Ku pernah ditunjukkan rasa getir lewat tariannya. Mengenal rindunya lewat musiknya, getir dalam goresan kuas, ragu dan kesal dalam petikan gitar. Atau kepatahan hati dalam sayatan biolanya. Kau bisa bayangkan speperti apa layaknya indah memiliki tempat dalam pengertian seni baginya?
Dia dan jiwa seni; pencariannya menuju kesejatiannya.
Beberapa teman lain adalah pencinta. Untuk waktu yang lama, mengarungi hati dalam gelombang dan riak pada satu hati yang dicintainya. Menyimpan hati itu, kadang dalam keadaan patah berkeping-keping di dalam jiwa. Mencoba membahasakan setiap detak riak itu menjadi iramanya menjalani hidup. Kita tak bisa menilai mereka terlalu berlebihan. Ku rasa tak tepat menganggap begitu. Kawan, apa definisi cinta bagimu?
Ada banyak hal..aku paham. Ketika kecil cinta itu dikenalkan seperti kasih ibu terhadap anak yang tak kunjung habis..ketika dewasa kau akan mendengar lagu-lagu band melayu indonesia yang berteriakkan cinta yang mendayu-dayu!kecengengan dalam tampang gondrong dan memakai anting. Ironis sekali!
Ketika tua, kau akan disuguhkan pada konsep cinta kepada tuhan yang tak akan lekang. Atau konsep para humanis dengan kecintaan terhadap kemanusian? Apapun itu, seberapa mampu kita mendefinisikan cinta hanya dalam kurun waktu-waktu itu? Akan lebih bijak ketika kita memaknainya dalam waktu yang lama. Selama waktu kita untuk merenung tentang banyak hal yang kita dapat, hilang dan kita ikhlaskan untuk pergi dan kenangan yang tetap tersimpan. Lalu tentang cinta itu, mari kita tanyakan pada para pencinta itu. Yang rela menukar hal yang paling berharga yang dia miliki bahkan hidupnya demi emosi terkuat itu. Seperti romeo dan juliet yang tragis, sampek-engtay, layla majnun, magdalena – steven, atau saijah dan adinda karya multatuli. Sejarah akan mencatat, akan masih ada orang sperti mereka. Kita yang akan terus menikmati kisah mereka. Mereka menjadi kekal.
Aku ingin menjadi mereka para pencari itu. Hanya saja tak mudah. Karena seperti teman-temanku, akan lebih indah menikmati jalan sendiri walau itu berarti menjadi tersesat, jatuh, bahkan hilang dan musnah tanpa menjadi apa-apa.
Setidaknya, aku bukan sebagian dari penghuni kolong langit ini yang hanya hidup untuk ”seakan-akan” hidup. Tanpa memberi kontribusi. Tak merasa berbahagia dalam hidup yang hanya sekali. Tak akan ada kompromi untuk tidak merasa bahagia. Tak ada waktu untuk menunda mencari damai. Untuk hati yang merindu rasa itu.
Temanku para pencari, ku ingin bersulang untuk pencarian kita. Mungkin kita akan bertemu di persinggungan jalanku dan jalanmu. Saling berbagi kisah tentang mencari. Saling menguatkan, meninggalkan kepedihan yang tak perlu dibawa lalu kembali berjalan ke depan. Dengan jalan kita masing-masing.

mari bersulang, kawan...dan selamat menemukan pencarianmu.

Senin, 06 Juni 2011

quando quando quando


“Tell me when will you be mine
Tell me quando quando quando
We can share a love divine
Please don't make me wait again”


" quando quando quando” adalah sebuah lagu pop Italia dari tahun 1962, dalam gaya bossa nova, dengan musik yang ditulis oleh Tony Renis. Diremix banyak sekali oleh banyak seniman, dan di tahun 2005, lewat duet Michael BublĂ© dan Nelly Furtado, mengenalkanku pada lagu ini. Dengan versi meraka berdua. Kalau saja Buble dan Furtado tahu berapa kali lagu ini ku putar, mungkin mereka akan besar kepala. Ntah berapa kali dalam sehari lagu ini ku putar. Setidaknya dalam 3 bulan terakhir ini. Bukan karena gila bossanova atau penggemar Buble dan Furtado. Tapi karena memang suka lagu ini. ketika berangkat ke kantor, list song di laptop, lagu sebelum tidur, pasti ada lagu ini. Karena perasaanku yang sedang menggilai si “quando quando quando”.
Sudahlah..ku rasa ketika kau jatuh cinta pun mungkin begitu. Harmonisasi frekwensi seperti lagu ini memang paling layak di dengarkan telinga dan hati. Menyenangkan bukan? Memanjakan hati dan harapan dengan suasana yang selalu merayu. Tersenyum di setiap saat. Mengingat dia; si kesukaanmu, dengan perlahan. Lalu mengulang lagi lagu ini dan kembali mengulang mengingatnya. Ah, kawan.. begini lah rasanya jatuh cinta! Sangat membuatku gila!
Aku paham, beberapa teman pernah berkata; jatuh cinta mempunyai saudara kembar yang selalu tak terlihat pada awalan. Si patah hati yang kejam! Dia selalu dibalik kembarannya. Menghantuimu dengan pisau lipat yang tajam. Mengincar hatimu untuk di patahkannya. Patah sepatah-patahnya!
Untuk di masa ini, aku mengambil resiko. Tak akan ku lindungi diri. Aku sudah berapa kali melihatmu..tak sengaja melihatmu mengintip-ngintip di punggung kembaranmu..Biarlah kita bertemu di lain waktu wahai patah hati. Nati lah..berikan ku dulu tenggat waktu menikmati kembaranmu..nanti, kau boleh patahkan hati. Patahkan beribu kepingpun tak mengapa. Karena aku sedang jatuh cinta! Se gila-gilanya jatuh! Se dalam-dalamnya jatuh!
Siang tadi di ruang kerja, lagu ini bergumul dengan piranti di meja kerja. Menyapa laptop, tumpukan arsip, pena dan kertas kosong. Ternyata mereka sudah begitu akrab. Sudah menjadi teman. Sesekali menggodaku bersamaan. Aku rasa, mereka seperti energi yang berbahasa. Meski bukan tanpa aksara. Mengingatkan pada rindu padanya yang tumbuh setiap hari. Seperti hari ini. Rindu itu lahir, mengenaliku sebagai pemilik dan berkata “kemana aku akan menuju?”.
Pada tumpukan buku ku sembunyikan rindu itu. Tak mampu ku simpan di hati. Dia akan tinggal terlalu lama dan aku tak yakin bisa lolos dari itu. Memikirkan dia itu seperti memainkan harmoni dan melodi secara bersama-sama. Dan bagian rindu ini adalah melodi yang paling miris! penuh nada minor yang paling rumit dimainkan tapi paling ingin dirasakan oleh hati.. tak cukup petikan gitar bahkan denting piano. Tapi sayatan biola!
...
When will you say yes to me
Tell me quando quando quando
You mean happiness to me
Oh my love please tell me when

Every moments a day
Every day seems a lifetime
Let me show you the way
To a joy beyond compare
...

Aku memang sedang menunggumu mengatakan hal seperti itu. Kepadaku. Sekali saja. Itu lah saat penentuan..apakah selamanya aku berdampingan dengan perasaan ini, atau kau mengantarkanku pada si pengintip berpisau lipat tajam di balik punggung itu. Kau tau aku sangat menginginkanmu. Kau bisa merasakan itu. Meski kau selalu tampil dalam kesederhanaan dan ketidakmengertian.
Tak apalah,puan..
Ku tau, kau sudah baik sekali. Menemaniku menikmati rasa ini, dengan tetap seperti ini. Setidaknya menunggu ku untuk siap bertemu si pematah hati itu..dan menyerah kepadanya.
Atau kau akan berkata ya kepadaku.. tell me quando, quando, quando..

I can't wait a moment more
Tell me quando quando quando
Say its me that you adore
And then darling tell me when