Sabtu, 12 Desember 2015

Sajak Zamnah (prolog opera Zamnah, di hari jadi kota Muntok ke 281, september 2015)



Aku percaya kepada takdir
Bahwa hidup ini tak ada yang kebetulan

Aku dipinang dan menjadi permaisuri adalah kehendak sang kuasa
Atas kehadiranku dalam mimpi sang baginda sultan
Atas izin seri sultan Djohor dan restu ayahanda Entje’ Wan Abdul Djabar
Dalam balutan waktu yang telah ditetapkan sang pencipta

Teringat akan kanda ketika kesusahan
Tentang keinginan kembali memerangi Palembang
Bersama pamanda Wan Akub dan Wan Serin menuju Bangka
Rela dan ridho bersama Kanda merebut tahta

Tak ada yang kebetulan bagi hidupku

Ketika datang mimpiku menelan seluruh tanah Palembang
Ku sembahkan kepada Tuanku untuk segera berangkat saat itu juga
Saat terbaik yang ditandakan oleh tuhan kepadaku
Berbekal sebilah sekin dari ayahanda menemani kanda kembali merebut tahta

Kita menuju Palembang dengan ketenangan
Dengan hati damai dalam kehendak tuhan
Bersama kanda duduk diatas beranda kapal
Diiringi para prajurit yang bersorak ramai

Naiklah kanda ke atas singgasana tahta kerajaan
Tanpa tarung dan pertumpahan darah
Karena memang sudah takdir kanda atas itu
Sesuai dengan mimpi yang dititipkan kepadaku

Kemudian masa berganti
Masa tenang namun penentu bagi masa depan keturunan keluarga Wan Abdul Djabar

Gelar pangkat Yang dan Abang telah diteguhkan
Menegaskan kedudukanku, ayahanda dan seluruh keluarga
Betapa menunjukkan kekhawatiran kakanda sultan akan kami
Setelah huru hara dan kesulitan yang kita lalui bersama ini?

Kepada kanda ku mohonkan agar kaum keluarga tinggal di Bangka
Tak jauh pandang dari Palembang, tak juga menganggu rasa istana
Diterima seluruh keluarga dengan iklas dan hormat
Semoga tuhan merawat semua dengan selamat

Karena tak akan ada yang kebetulan
Takdir tuhan yang mengantarkan ini kepada kami

Di ujung tanjung yang kelihatan ini diputuskan ayahanda dan kaumku semua menetap
Membangun kejayaan bangsa Melayu di tanah Bangka
Di tengah kemuliaan Kanda Sultan Mahmud Badaruddin Jayawikrama
Besar dengan kejayaan Kesultanan Palembang yang termasyur

Tak ada sesal seperti terbuang
Meski sempit hati menjadi selingan
Tapi keyakinan tentang harapan
Membangun daratan ini menjadi impian

Tujuh bubung rumah telah terbangun
Seberang sungai berdiri kampung Patemun
Cikal bakal sebuah kejayaan
Atas kebanggaan bangsa melayu yang tak terlupakan

Rabu, 02 Mei 2012

KONSEP WEALFARE STATE DAN PELAYANAN PUBLIK DI INDONESIA (Catatan tentang UU nomor 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik)

Istilah welfare state dimunculkan pertama kali oleh Uskup Agung York pada tahun 1940-an, sebagai antitesis dari program warfare state (negara perang) Nazi. Namun cikal bakal Welfare State telah dimulai oleh sejumlah tokoh karismatis seperti Bissmark (Jerman), Von Tappe (Austria), dan Napoleon III (Perancis) dengan memberlakukan sistem jaminan sosial bagi pegawai pemerintah dan kelompok pekerja industri. Sementara di Inggris, sistem welfare ditandai dengan lahirnya UU Penanggulangan Kemiskinan pada tahun 1880-an. Negara kesejahteraan dibangun atas dasar nilai-nilai sosial, seperti kewarganegaraan sosial, demokrasi penuh, sistem hubungan industrial modern, serta hak atas pendidikan dan perluasan pendidikan massal yang modern. Produksi dan penyediaan kesejahteraan warga negara tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada pasar. Hingga saat ini, negara kesejahteraan telah dianut oleh sejumlah negara maju dan berkembang. Dilihat dari besarnya anggaran negara untuk jaminan sosial, sistem ini dapat diurutkan ke dalam empat model, yakni: Pertama, model universal yang dianut oleh negara-negara Skandinavia, seperti Swedia, Norwegia, Denmark dan Finlandia. Dalam model ini, pemerintah menyediakan jaminan sosial kepada semua warga negara secara melembaga dan merata. Anggaran negara untuk program sosial mencapai lebih dari 60% dari total belanja negara. Kedua, model institusional yang dianut oleh Jerman dan Austria. Seperti model pertama, jaminan sosial dilaksanakan secara melembaga dan luas. Akan tetapi kontribusi terhadap berbagai jaminan sosial berasal dari tiga pihak (payroll contributions), yakni pemerintah, dunia usaha dan pekerja (buruh). Ketiga, model residual yang dianut oleh AS, Inggris, Australia dan Selandia Baru. Jaminan sosial dari pemerintah lebih diutamakan kepada kelompok lemah, seperti orang miskin, cacat dan penganggur. Pemerintah menyerahkan sebagian perannya kepada organisasi sosial dan LSM melalui pemberian subsidi bagi pelayanan sosial. Keempat, model minimal yang dianut oleh gugus negara-negara latin (Prancis, Spanyol, Yunani, Portugis, Itali, Chile, Brazil) dan Asia (Korea Selatan, Filipina, Srilanka). Anggaran negara untuk program sosial sangat kecil, di bawah 10 persen dari total pengeluaran negara. Jaminan sosial dari pemerintah diberikan secara sporadis, temporer dan minimal yang umumnya hanya diberikan kepada pegawai negeri. Sementara itu negara-negara berkembang di Asia Tenggara (Malaysia, Thailand, dan Indonesia) memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi dalam mereplikasi model-model yang berkembang di eropa. Hal ini salah satunya disebabkan oleh sistem kesejahteraan yang diterapkan oleh pemerintah kolonial akan menpengaruhi kapasitas negara tersebut dalam pengembangan sistem perlindungan sosial pasca kemerdekaan mereka. Faktor yang mempersulit ini menurut Gough adalah persoalan demokrasi dan masyarakat sipil, iklim dunia usaha yang lebih terbuka bagi modal asing, kekuatan pekerja lemah dan terpecah-pecah, peran sektor pertanian yang kuat sehingga melemahkan integrasi sosial kelas pekerja, peran negara, legitimasi dan kebijakan sosial yang bersifat bonapartist bagi para elite dan kelompok tertentu dan keterikatan kelembagaan yang sangat terkait dengan pengalaman penjajahan. Paradigma antara negara dan warga negara, mengalami pasang surut. Di wealfare state, jelas paradigma negara dan regulasi publik idealnya lahir sebagai pemahaman yang tuntas tentang publik service yang menjadi hak warga negara (citizen right). Berbeda dengan negara seperti indonesia yang justru meletakkan paradigma nya masih dalam kerangka elit dan warga negara. Kebutuhan terhadap pelayanan publik selalu di lihat sebagai kebutuhan warganegara dari kacamata elit. Segala hal yang baik bagi elit, adalah hal yang baik juga untuk warganegara. Seperti contoh, setiap hal yang baik dari luar, seperti ratifikasi internasional selalu dianggap baik dan diterapkan ke warganegara tanpa melihat itu merupakan kebutuhan yang penting atau memang di dasarkan pada karaktristik kebutuhan di dalam masyarakat. Merunut jauh kebelakang, jiwa negara kesejahteraan telah lama ada pada bangsa Indonesia baik secara ideologi dan konstitusional. Secara umum, warisan intelektual Indonesia sebenarnya merupakan adaptasi dari semangat revolusi perancis: kebebasan (freedom), kesetaraan (equality), dan persaudaraan/gotong royong (fraternity). Secara operasional-kelembagaan, dasar-dasar itu diwujudkan dalam prinsip demokrasi politik dan demokrasi ekonomi. Dan dalam tafsir modern, maka warisan intelektual itu dapat diringkas dalam tiga gagasan utama: (a) Menerima dan menghormati hak milik pribadi (private property) dan percaya bahwa mekanisme pasar memang diperlukan; (b) akan tetapi, sistem ekonomi pasar itu harus menjamin terjadinya keadilan sosial dan ekonomi (c) berbagai bentuk dan institusi redistributif perlu dijalankan. Ketiga ide itu tidak lain sejalan dan seiring dengan gagasan dan ide Negara Kesejahteraan (Sri Edi Swasono, 2005). Pasal 33 UUD 1945, dengan tegas menyatakan (1) perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasa atas asas kekeluargaan; (2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasasi hajat hidup orang banyak dikuasasi oleh negara; (3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya di dikuasasi oleh negara. Selanjutnya, pasal 27 ayat 2, ”Tiap-tiap warganegara (semua/universal) berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”. Akan tetapi, dalam perkembangnya hingga tahun 2000an, berbagai kekeliruan dan kelemahan kelembagaan (BUMN yang kacau, birokrasi yang lemah, dan sumber keuangan negara yang masih lemah) dan interpretasi neoliberal paska 1980an, membuat kebijakan ekonomi Indonesia makin jauh dari cita-cita para pendiri bangsa (Sri-Edi Swasono, 2005). Di sisi kelembagaan, meski berbagai kelembagaan sudah lama ada (seperti koperasi, BUMN dan jaminan sosial) institusi sosial itu hanya berjalan di tempat, tidak bisa mengimbangi pertumbuhan penduduk dan perkembangan ekonomi. Cakupan jaminan sosial di Indonesia demikian sempit, hanya terbatas kepada pegawai negeri (Askes dan Taspen), dan pekerja swasta (Jamsostek). Itupun bersifat iuran ketimbang didanai oleh pajak (tax-funded). Era desentralisasi dan otonomi daerah harus dimaknai sebagai upaya mendekatkan pelayanan oleh pemerintah kepada warga negaranya. Beberapa tahun terakhir, implementasi Otda di Indonesia belum banyak perubahan yang terjadi dalam pelayanan sosial sebagai bagian dari pelayanan publik meskipun ada daerah seperti Aceh yang telah membentuk peraturan daerah (Qanun) tentang pelayanan publik yang berkarakteristik dengan daerahnya yang baik untuk menjadi contoh daerah lain untuk melakukan hal kreatif seperti Aceh. Keterbatasan anggaran senantiasa menjadi alasan klasik mengapa negara tidak memberikan pelayanan sosial secara optimal. Sebuah alasan yang juga tidak kreatif, bagi iklim sekarang dimana korupsi marak terjadi dan kesempatan daerah yang mampu menciptakan kreasi dalam menentukan pilihan penganggaran nya sendiri. Secara legal formal pembentukan Undang – Undang nomor 25 tahun 2009 dilatarbelakangi oleh pasal 5 ayat (I), Pasal 18A ayat (2), Pasal 20, Pasal 27, Pasal 28A, Pasal 28B, Pasal 28C, Pasal 28D, Pasal 28H, Pasal 281 ayat (2)) dan Pasal 34 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara RepubIik Indonesia Tahun 1945 dan atribut ekternal (yang lebih ingin saya sebut sebagai desakan) yakni Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan Intentational Covenant on Economic,Social, and Culturtzl Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya) dan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik serta beberapa regulasi seperti pemerintahan daerah, kepegawaian dan lembaga ombusman. Dengan Maksud memberikan kepastian hukum dalam hubungan antara masyarakat dan penyelenggara dalarn pelayanan publik dan bertujuan terwujudnya batasan dan hubungan yang jelas tentang hak, tanggung jawab, kewajiban, dan kewenangan seluruh pihak yang terkait dengan penyelenggaraan pelayanan publik, terwujudnya sistem penyelenggaraan pelayanan publik yang layak sesuai dengan asas-asas umum pemerintahan dan korporasi yang baik, terpenuhinya penyelenggaraan pelayanan publik sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan terwujudnya perlindungan dan kepastian hukum bagi masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan publik, UU ini mengakomodir semangat dari upaya pencapaian tujuan filofosif UUD 45 yakni Pemenuhan kebutuhan setiap warga negara melalui suatu sistem pemerintahan yang mendukung terciptanya penyelenggaraan pelayanan publik yang prima dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar dan hak sipil setiap warga negara atas barang publik, jasa publik, dan pelayanan administratif. UU yang disahkan pada tanggal 18 Juli 2009 tersebut menjadi salah satu pijakan hukum bagi upaya pemenuhan hak dasar rakyat melalui penyelenggaraan pelayanan publik yang lebih partisipatif dan non diskriminasi. Selain itu, UU Pelayanan Publik juga menjadi salah satu strategi bagi upaya percepatan reformasi birokrasi dalam konteks pelayanan publik. Terutama karena beberapa aturannya bersifat “memaksa” bagi terjadinya perubahan mindset, sikap dan perilaku dijajaran birokrasi. Sayangnya, sejumlah pasal-pasal yang diatur dalam UU tersebut terhambat untuk diimplementasikan karena hingga kini tak satu pun dari lima ketentuan turunan yang harus dituangkan dalam peraturan pemerintah (PP) disahkan. Padahal, dalam pasal 60, ketentuan penutup UU tersebut secara tegas disebutkan bahwa seluruh PP harus sudah disahkan paling lambat 6 (enam) bulan sejak UU nomor 25 tahun 2009 disahkan. Sejumlah ketentuan yang terhambat untuk diimplementasikan karena belum diatur dalam PP adalah; ketentuan mengenai ruang lingkup pelayanan publik, pedoman penyusunan stándar pelayanan, tatacara pengikutsertaan masyarakat dalam pelayanan publik, sistem pelayanan terpadu, proporsi akses dan kategori kelompok masyarakat serta satu Perpres mengenai mekanisme dan ketentuan pemberian ganti rugi. Keterlambatan pengesahan PP tersebut tentu akan berimplikasi pada banyak hal, di antaranya; ketidakjelasan cakupan dan lingkup pelayanan publik yang diatur dalam UU tersebut, ketidakpastian akses partisipasi masyarakat dalam pelayanan publik, ketidakpastian jaminan pelayanan bagi kelompok rentan dengan diperbolehkannya pengadaan pelayanan berjenjang pada unit-unit pelayanan, ketidakjelasan sistem pelayanan terpadu dan implikasinya bagi kemudahan akses. Serta menghambat upaya percepatan reformasi birokrasi dalam memberikan layanan yang lebih baik. Dengan kondisi seperti ini, mulai muncul pesimisme terhadap sebuah konsep dari pelayanan publik di tengah masyarakat. Seberapa jauh konsep wealfare state ini bisa menjadi sebuah kenyataan bagi masyarakat? Saya pribadi setuju dengan pendapat pemerintah telah melanggar komitmen nya sendiri dan tidak sungguh-sungguh berupaya melakukan percepatan reformasi birokrasi setidaknya dalam pelayanan publik. Apa yang membuat Pemerintah enggan untuk segera memenuhi tanggungjawab juridisnya, dengan mengesahkan PP terhadap pelaksanaan UU nomor 25 tahun 2009? Masalah teknis seperti kebijakan penganggaran kah (yang memang akan terpengaruh untuk lebih besar menganggarkan belanja pelayanan publik) dan ketidaksiapan aparatur pelayanan publik di republik ini atau memang tidak ada keinginan besar dari para elit di negeri ini untuk melayani warganegara nya sendiri? Saya pribadi lebih cenderung percaya pada tidak adanya keinginan yang besar dari para elit untuk melaksanakan sebuah sistem pelayanan publik yang sesungguhnya di republik ini. Paradigma elit yang masih kental, dan politik kepentingan yang tinggi hanya akan menjadi gaung reformasi birokrasi jalan di tempat. Atau UU nomor 25 tahun 2009 ini terlalu ideal untuk dilaksanakan secara penuh saat ini? Untuk memenuhi tugas mata kuliah Managemen Aset Dosen : Drs.Wakhid Slamet Ciptono, M.B.A., M.P.M., Ph.D Trimester III Magister Ekonomika Pembangunan Angkatan 40 PROGRAM MAGISTER EKONOMIKA PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2010 Referensi Undang – Undang Nomor 25 tahun 2009 tentang pelayanan Publik Modul belajar sekolah sosial demokrasi tahun 2009, Jaringan Kaum Muda Sosdem Mimpi Negara Kesejahteraan, Sugeng Bahagijo dan Darmawan Triwibowo, Penerbit; Perkumpulan Prakarsa – Jakarta http://jurnal-kesejahteraan.org

Opini WTP dan pengelolaan Barang Milik Daerah

Siapa yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan BMD di pemerintah daerah?
Selama ini, secara teknis pengurus barang lah yang menjadi sasaran segala hal yang berhubungan dengan penatausahaan BMD. Dari sisi pemeriksaan dan pelaporan, pengurus barang lah yang selalu menjadi pihak yang dimintai keterangan dan pertanggungjawaban teknis pengelolaan barang di lingkup SKPD yang dia tangani. Menjadikan mereka seperti “tersangka” di setiap musim pemeriksaan, baik secara intern dari Inspektorat wilayah maupun BPK perwakilan. Padahal pada PP nomor 6 tahun 2006 dan Permendagri nomor 17 tahun 2007 yang menjadi “kitab suci” pengelolaan BMD, tanggung jawab pengelolaan BMD secara umum, berada pada 4 pihak. Pertama, Kepala Derah (Gubernur/Bupati), kedua adalah Pengelola Barang (Setda, dan dibantu oleh asisten yang membidangi dan Pembantu Pengelola Barang; Kepala Biro Umum/Kepala DPPKAD), ketiga adalah Penguna Barang (Kepala SKPD) dan terakhir Pengurus Barang di SKPD yang di tetapkan oleh SK Kepala Daerah setiap tahun. Dari sisi regulasi tentang pengelolaan BMD, disadari bahwa PP nomor 6 tahun 2006 dan Permendagri nomor 17 tahun 2007 memang belum mampu secara maksimal mengakomodir semua petunjuk teknis pelaksanaan pengelolaan BMD. Dari beberapa kasus hasil laporan pemeriksaan audit oleh BPK atau BPKP masih ditemui beberapa temuan pelaksanaan pengelolaan BMD yang tidak optimal akibat dari pemahaman tentang regulasi tersebut yang berbeda intepretasi dan berujung pada tidak maksimalnya pelaksanaan pengelolaan dari tahap perencanaan sampai TGR. Hal ini yang kemudian menjadikan Perda tentang BMD menjadi strategis dalam mengantisipasi masalah tersebut. Dari sisi teknis pelaksana pengelolaan BMD, khususnya di tingkat teknis SKPD (pengurus barang) juga signifikan terlihat kelemahan pada SDM pengurus barang baik dari sisi pemahaman tentang sistem dan prosedur penatausahaan dan sisi kemampuan teknis penatausahaan seperti pembuatan laporan,dan lain-lain. Apakah hal ini penyebab paling krusial dari kelemahan pengelolaan BMD? Pengelolaan BMD sering kali dianggap sebagai bagian dari pengelolaan keuangan daerah. Bila berada pada paradigma itu, pengelolaan BMD hanya ada pada dataran kelengkapan data untuk penyusunan neraca daerah khususnya pada persediaan, aset tetap (tanah, kendaraan/mesin,gedung/bangunan, jalan/jembatan, aset tetap lainnya), dan aset lain daerah. Padahal pengelolaan BMD lebih luas dari sekedar bagian dari pengelolaan keuangan daerah. Dalam teori management asset, pengertian me-“management “ aset bukan hanya bertujuan menghasilkan sebuah laporan aset yang akurat. Me-management asset berarti melakukan pengelolaan demi optimalisasi dan efesiensi sebuah organisasi. Tergantung visi dan misi organisasi tersebut, dan paradigma management asset adalah konsep utama dalam meraih hal tersebut! Pengelolaan aset berarti sebagai upaya untuk bagaimana mencapai targetan-targetan organisasi secara efektif, meminimalisir kerugian-kerugian, melakukan efisiensi, termasuk melakukan pengembangan-pengembangan organisasi dari sisi aset. Pemerintah memang bukan organisasi yang berparadigmakan profit. Pemerintah adalah organisasi besar yang memiliki tujuan mengakomodir kebutuhan-kebutuhan masyarakat secara umum. Baik dari sisi pelayanan-pelayanan dasar dan birokrasi penyelenggaraan kehidupan bernegara. Dari sisi ini hal utama yang menjadi perhatiaan dalam management asset adalah bagaimana mengelola aset daerah (BMD) untuk memaksimalkan tugas pemerintah dan mengoptimalkan pelayanan-pelayanan kepada masyarakat. Ketika bicara tentang ini kita akan bersinggunggan dengan beberapa indikator-indikator tingkat keberhasilan pemerintah secara umum. Di bidang pengelolaan keuangan biasanya yang menjadi ukuran adalah hasil audit pemeriksa keuangan oleh badan yang ditunjuk oleh negara, misalnya BPK dengan beberapa tingkat kualitas pengelolaan dan pelaporan. Ada Wajar Tanpa Pengecualian/WTP (unqualified opinion) di puncak level pengelolaan terbaik dan disclaimer sebagai level terburuk. Apakah pencapaian kualitas pengelolaan BMD/aset ini mampu dicapai hanya dengan meletakkannya pada kemampuan pengurus barang di tingkat SKPD masing-masing? Dengan kualitas SDM pengurus barang yang lemah, hal ini mustahil di raih. Dengan kemampuan SDM yang handal pengurus barang pun, hal ini masih sulit di raih! Secara pribadi, saya menghitung pengurus barang di SKPD hanya bertanggungjawab sebesar 30% keberhasilan pengelolaan BMD. 70% keberhasilan pengelolaan BMD, masih tersebar pada pihak lain yang juga memiliki peran besar dalam pengelolaan BMD. Pengguna barang, adalah orang nomor satu dalam SKPD yang berwenang melakukan perencanaan, penggunaan barang, memelihara, melakukan pengawasan BMD di lingkup SKPD nya. Apakah fungsi itu sudah berjalan dengan baik? Pengelola barang (dibantu oleh pembantu pengelola barang) adalah pihak yang “mengelola” BMD secara umum di daerah. Di pundak pengelola lah, tahapan pengelolaan BMD memiliki blue print untuk dikembangkan secara teknis di SKPD. Baik dari sisi penatausahaan, pemanfaatan sampai dengan Tuntutan Ganti Rugi/TGR. Berapa banyak daerah yang memiliki konsep/blue print yang baik dalam pengelolaan BMD? Apakah Pemerintah daerah memiliki regulasi teknis misalnya Perda pengelolaan BMD di daerahnya? Apakah sudah ada sistem dan prosedur yang memuat bentuk tahapan penatausahaan BMD di SKPD? Apakah pengawasan BMD yang idle dan pemanfaatan BMD sudah diukur dalam usaha pencapaian target pemerintah? Pihak puncak dalam pemerintah daerah adalah kepala daerah. Dari sinilah segala kebijakan intern birokrasi pemerintah berawal. Di sisi penatausahaan BMD, kepala daerah menetapkan status pengunaan BMD, penyetujui rencana kebutuhan barang daerah, penetapkan penghapusan, dan banyak lagi kebijakan teknis tentang BMD. Dalam bahasa yang lebih trend; political will kepala daerah sangat menentukan warna birokrasi, termasuk dalam pengelolaan BMD. Melihat peran-peran yang vital pada tingkat pihak-pihak diatas, bagaimana mungkin pengurus barang mampu menjadi penentu keberhasilan pengelolaan BMD? Secara umum, ada tiga hal utama yang menjadi perhatian penting dalam upaya keberhasilan pengelolaan BMD. Pertama, comitment yang tinggi. Semua pihak yang berkaitan dalam pengelolaan BMD harus memiliki paradigma yang sama dan sepakat untuk melaksanakan sebuah sistem pengelolaan yang terintegrasi baik secara teknis dan kebijakan intern. Mulai dari kepala daerah, sampai pengurus barang di SKPD memiliki kesadaran dan komitmen yang tinggi sesuai dengan peran masing-masing dalam pengelolaan BMD. Kedua, political will yang besar dari kepala daerah, setda dan kepala SKPD. jika mau jujur, kepala daerah, setda dan kepala SKPD lebih disibukkan dengan pengelolaan keuangan daripada melakukan pembinaan pada pengelolaan BMD. Dibutuhkan semacam ketegasan dalam policy intern, untuk lebih menitikberatkan focus penatausahaan BMD dari pengambil kebijakan demi menciptakan suasana yang lebih kondusif bagi pengelolaan BMD khususnya penatausahaan. Misalnya dengan menganalisa tingkat kualitas dan kuantitas SDM pengurus BMD di SKPD, apakah sudah dirasakan kompeten dengan kondisi yang ada? Apakah jumlah SDM di bidang Aset yang menjadi ujung tombak pembantu pengelola sudah dirasakan cukup? Apakah kompensasi pengurus dan penyimpan barang dirasakan sudah tepat dan seimbang dengan beban kerja dan tanggung jawab pengurus/penyimpan barang? Hal ketiga yang tidak kalah penting adalah sebuah tim yang solid. Banyak hal yang terjadi dalam usaha optimalisasi pengelolaan pemerintah bukan pada sarana dan prasarana yang baik tapi lebih pada kebutuhan SDM/staf yang solid, terdidik dan berkomitmen tinggi. Bayangkan jika sebuah organisasi sudah dilengkapi oleh peralatan dan sarana yang terbaik bahkan dengan sistem modern dalam bentuk aplikasi komputersasi sekalipun tapi tanpa dilengkapi SDM yang solid, terdidik dan berkomitmen. Niscaya segala kemudahan teknologi tersebut hanya sia-sia, dan tidak memiliki nilai guna yang diharapkan karena tidak maksimal digunakan untuk kepentingan yang diinginkan. Dalam penatausahaan BMD, staf bidang aset DPPKAD menjadi fokus utama untuk menjadi sebuah tim yang solid dalam fungsinya menjadi koordinator penatausahaan di seluruh SKPD, melakukan penghimpunan pelaporan, melakukan kajian-kajian pemanfaatan, melakukan pengawasan penggunaan, dah hal-hal lain sebagai jembatan antara SKPD dan Pengelola barang daerah. Hal diatas bukan sebuah upaya untuk mencari kelemahan dan kesalahan para pihak dalam sebuah siklus besar bernama pengelolaan aset/barang milik daerah. Sudah bukan saatnya untuk menyalahkan, tapi di titik ini lebih baik bersama-sama untuk kembali meluruskan persepsi untuk memperbaiki semua ke tujuan bersama. Bukan hanya demi capaian indikator keberhasilan auditor dengan opini wajar tanpa pengecualian saja, tapi ke tujuan yang lebih besar dan utama; penciptaan pelayanan yang handal kepada masyarakat.

Rabu, 18 Januari 2012

Unintended


You could be my unintended
Choice to live my life extended
You could be the one I'll always love

You could be the one who listens
to my deepest inquisitions
You could be the one I'll always love

I'll be there as soon as I can
But i'm busy mending broken
pieces of the life i had before

First there was the one who challenged all my dreams and all my balance
She could never be as good as you

(Muse)
.....

Siapa yang tak pernah menyimpan rahasia?
Sebagian orang malah menyimpannya hingga mati. Tak rela membaginya kepada siapa pun. Hanya untuk dirinya sendiri dengan beberapa pertimbangan. Entah itu sebuah kisah sedih, aib, atau sebuah konspirasi besar yang melibatkan banyak kepentingan serius.

Kadang rahasia tak hadir sebagai rahasia yang memang sudah direncanakan. Rahasia itu datang secara tiba-tiba dan tidak sengajakan ada seperti perselingkuhan yang memang di niatkan, persekongkolan elit, dan lain-lain. Sebagian rahasia lahir dari sebab akibat gesekan aktivitas, rutinitas yang terbiasa bersama pelukan waktu.

Aku tak bahkan tak tahu kalau ini bisa dinamakan rahasia. Tak ada kesepakatan antara kita untuk menjadikan ini sebagai “rahasia”. Apakah tatapan kita ketika bertemu di tangga kantor setiap pagi, tanpa satu kalimat apapun yang keluar dari mulut kita dan senyumanmu itu bisa di sebut sebagai sesuatu untuk menjadikannya rahasia?

Hanya saja, ini terjadi runtun selama bertahun-tahun.
Ketika senyummu sama manisnya seperti teh hangat yang disajikan setiap pagi di meja kantor, ketika tatapanmu sama hangatnya seperti sinar pagi yang cerah, apa jadinya hari ku tanpa hadirmu?

Di satu waktu, pernah ku tak bertemu denganmu. Di sepanjang tangga itu kucari tanda tentangmu. Di sinar pagi ku titip rindu untukmu. Dan ketika ku temukan lagi kamu berjalan di pelataran kantor menuju tangga, hati ini bersorak gembira mengalahkan kegembiraan anak SMA di pesta kelulusan sekolah.
Sejak itu ketemukan dirimu menciptakanmu seperti sebuah rahasia.

Godaan terbesar dari sebuah rahasia adalah ketika rahasia itu coba ku bagi. Membukanya, menyajikan keindahan kisah itu untuk dapat dirasakan orang lain. Tapi sebenarnya ia bukan lagi rahasia. Rahasia itu tidak lagi menjadi rahasia.

Tapi siapa yang sanggup menahan godaan itu?
Tak banyak.

Seperti aku yang sudah tak sanggup menyimpannya terlalu lama untukmu ketika kau mulai mengajakku bicara. Berbincang-bincang, lalu bertemu sekedar makan siang bersama. Tatapanmu sudah tidak lagi semanis teh hangat di pagi hari tapi sudah menjadi madu untuk selai roti sarapan pagi. Enak dan menyehatkan. Aku mulai mencanduimu.

Di titik ini, aku ingin kau berhenti untuk tidak lebih masuk ke dalam hidupku. Meski itu sudah terlambat. di beberapa bagian, aku sudah tak seperti yang tampak. Hati ini pernah hancur berkeping-keping dan butuh waktu panjang menyusunnya lagi untuk sehat menjadi hati. Menjadi tua sebagai proses, menyisakan konsekwensi hidup yang mahal untuk di bayar. Seperti berdiri di depan loket setiap bulan untuk membayar tagihan. Hidupku adalah hutang dari masalalu. Masalalu itu mencekik mimpi seperti tengkulak membungakan uang yang besar terhadap pinjaman. Hanya menyisakan sedikit harapan tanpa berani bermimpi terlalu indah.
Pernah berharap kamu tinggal di sisi hati ini. Menyimpanmu disana senyaman kamu tinggal. Hanya rasanya tak adil. Hanya menyediakan kamu untuk ku tanpa bisa menyediakan aku untukmu.

Aku berhenti menjadikanmu rahasia.

Meski itu berarti teh hangat pagi ini sudah mulai terasa hambar. Tak lagi manis.


(masih tentang catatan seorang kawan..)

Selasa, 17 Januari 2012

Kepada kamu yang tersamarkan,


Aku sedang ingin memelukmu. Merasakan kamu ada untukku, meski itu kadang terlalu mewah. Aku tak bohong. Aku benar-benar sedang ingin memelukmu.
Aku menunggu purnama yang sama dengan waktu itu. Bulan hari ke lima belas yang gemilang. Seperti purnama pertama yang ku nikmati bersamamu di tepi kota itu. Purnama itu datang perlahan bersama kabut dan awan gelap yang menyelimuti. Sinarnya tersamarkan. Tapi tetap indah. Mungkin karena bersamamu.
Ku percaya tak ada yang kebetulan. Takdir pun adalah runtunan peristiwa yang saling berkait satu dengan yang lain. Aku menyukai purnama yang samar-samar itu seperti aku menyukaimu. Kau yang selalu tersamarkan. Hadir dalam ketidakmampuan dan kepastian tapi ada untukku.
Aku tahu hidup adalah konsekwensi. Seperti semua orang di dunia ini yang memilih setiap pilihan dalam hidup dan menerima akibat dari pilihan itu. Ketika itu pilihan baik, kebaikan yang didapat. Apabila itu pilihan yang salah, kesalahan lah yang di terima. Simpel. Mudah dicerna. Anak SD pun tahu.
Hanya tak selalu mudah menentukan pilihan. Dan bukan perkara indah menerima konsekwensi buruk dari pilihan yang salah hanya dengan kata-kata “sabar ya..”, “yang ikhlas..” atau “relakan saja”. Untuk hal-hal seperti itu aku membutuhkanmu. Kamu seperti gudang yang menyimpan barang-barang tak terpakai. Membuat rumah menjadi nyaman tak terganggu. Atau seperti gerimis yang menghapus jejak-jejak kotor di jalanan. Hadir dengan samar-samar. Tak tampak sebagai pahlawan. Tapi berguna seperti udara untukku.

Kepada kamu yang tersamarkan,
Maafkan aku yang selalu membutuhkanmu tanpa pernah menyediakan diriku berguna untukmu. Aku memang tak sekuat kamu melawan keterbatasan. Keterbatasan itu milikku. Kamu tak terbatas.
Maafkan aku yang hanya bisa menuntut. Meski waktu semakin memantapkan kamu untuk tiadak tergantikan. Aku tak bisa menjanjikan apapun. Kecuali perasaan rindu yang tersamarkan untukmu.
Aku sedang menatap purnama yang samar-samar ini. Adakah kamu merasakanku?
Tentang kita yang selalu tak bisa di jelaskan.
Tentang rindu yang tak bisa dengan mudah diucapkan.

(catatan seorang teman.. selamat menikmati ke samar-samaran rasa itu)

Jumat, 23 Desember 2011

sore setelah hujan di bulan Desember


Di bulan Desember, tak perlu ke Eropa untuk merasa dingin. Di pesisir barat pulau Bangka ini, setiap malam anak pesisir tidur meringkuk seperti udang karena dingin. Memang tak ada salju seperti di Eropa tapi setiap desau angin malam mengundang rintik hujan terdengar di telinga, sudah bisa dipastikan..tak ada yang indah selain tidur berselimut tebal. Orang pesisir adalah jenis manusia terbiasa menikmati hangat mentari. Bahkan dengan bonus ultraviolet dosis tinggi yang menghitamkan kulit seperti arang pun sudah biasa. Tak ada yang suka dingin kecuali kelompok maling jemuran, panci dapur, sendal jepit, mengendap-endap diantara dingin dan kodok sungai yang berisik memanggil hujan.
Lelaki pesisir dewasa umumnya adalah nelayan tangguh. Mengarungi laut dengan perahu sederhana, bermalam-malam di tengah laut seperti satpam ronda keliling kampung. Laut seperti halaman rumah saja. Dikenalinya tiap gugus karang yang bisa mengkaramkan perahu, berteman taburan bintang sebagai arah. Tapi tetap saja bulan Desember bukan waktu yang baik untuk melaut. Angin bulan Desember seperti tusukan jarum-jarum pada tubuh. Menusuk ngilu.

Tapi tak ada ciptaan Tuhan yang sia-sia. Terkadang manusia saja yang tak mampu melihat hikmahnya.
Sore di bulan Desember adalah sore terindah sepanjang tahun. Seperti kata R.A Kartini ”habis gelap terbitlah terang”, setiap usai bulir hujan menyiram pesisir, matahari kuning bulat mengantung di ufuk barat. Terang, menyala, berbinar-binar. Yang selalu istimewa adalah awan putih berarak ramai di sekelilingnya. Hiburan termegah anak pesisir. Mengajak lupa pada hujan yang sendu. Ilham para pemuda yang sedang kasmaran tiba-tiba menjadi pujangga. Merangkai-rangkai kata indah untuk para gadis pesisir yang sedang dicintainya. Efek khas dari bulan Desember di pesisir barat pulau ini.. di senja yang teduh, pantai, pelabuhan, dermaga, bahkan hampir semua pesisir di singgahi muda-mudi. Sebagian hanya duduk melamun. Mereka melamun dengan khusyuk. Se-khusyuk matahari yang tenggelam perlahan di telan malam.

Seorang perempuan paruh baya duduk tersenyum di teras rumah. Menatap jauh ke arah matahari terbenam dengan warna ingatan seperti matahari sore itu. Dulu, tak ada yang lebih dia sukai selain hujan di sore hari. Jika sebagian besar orang menyukai sore yang megah dengan sinar kekuningan di ujung ufuk, dia justru sebaliknya. Ini bukan tanpa alasan.
Dan alasan itu adalah kisah tentang keberanian melawan untuk tidak kalah dan hilang.

Hidup di pesisir barat pulau bangka, menjadikanmu sulit untuk menghindari pantai dan kemilau senjanya yang mewah. Warna langit yang kuning keemasan itu selalu di rindu. Menjadi hiburan secara kolosal bagi penghuni pesisir ini. Tak ada alasan untuk tidak menyukai langit sore.

Itu dimulai 30 tahun yang lalu. Ketika umurnya 25 tahun. Perempuan muda yang bahagia. Di usia pernikahannya yang ke empat, dia dan suaminya di karuniai dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 3 tahun, dan adiknya, perempuan satu setengah tahun. Hidup sederhana di tepian kota pesisir yang sepi tetapi rapi. Masa dengan banyak harapan dan mimpi. Dia dan suami sudah merancang masa depan yang lebih baik untuk mereka berempat. Pendidikan untuk kedua anaknya, membangun rumah yang lebih permanen, merintis usaha kecil serta macam hal. Optimisme yang menyala. Hanya saja hidup tak selalu linier dengan harapan. Si director hidup selalu membuat kita terkaget-kaget dengan rencananya. Sang suami meninggal dalam kecelakaan. Meninggalkan semua mimpi dan rencana serta tangis dua anak kecil mereka.
Banyak perempuan tangguh yang pernah hidup dalam dunia ini. Sebagian tercatat oleh sejarah dan menjadi tauladan. Tapi tentu tak semua perempuan terlahir tangguh. Sebagian besar perempuan tetaplah perempuan. Sifat kodrati mereka yang perasa dan peka, terkadang membuat mereka menjadi larut dan lemah. Dalam kelemahan, apalagi yang menjadi harapan selain pertolongan dari yang lain?
Tak mudah menjalani hidup setelah kematian sang suami. Uang pensiun sang suami terlalu kecil untuk membiayai hidup mereka bertiga sementara pertolongan tak kunjung datang mengetuk pintu. Dia masih muda. 25 tahun. Tak ada pilihan lain selain mencari pekerjaan. Menjadi ibu sekaligus ayah untuk anak-anak ini.
Mungkin dia bukan perempuan yang dilahirkan tangguh dan pintar. Bukan berlian atau batu permata yang memang sudah tercipta indah untuk menjadi perhiasan. Cukup di usap saja, mereka akan bernilai. Tetapi dia berjanji akan seperti emas, berproses dengan waktu, di tempa dan dibentuk agar bernilai. Membuatnya berharga demi hidup kedua anaknya.

Sejak itu dia menghindari senja yang indah. Menghindari kesempatan untuk merenung, mengenang segala bahagia yang pernah ada sebab itu akan menyiksanya dalam kesedihan yang panjang. Dia tak mau larut. Sejak itu dia lebih memilih menyibukkan diri di dalam rumah ketika senja. Berharap senja segera berganti malam. Biar dia dapat menikmati gelap dan bersembunyi disana. Menenangkan hati dalam pekat. Melarutkan kelelahan pada malam.
dia menelan tempaan waktu dengan tangan mengenggam janji. Tak mengharapkan penolong baik hati bagi hidupnya. Pagi sampai sore dia berkerja sebagai administratur sebuah yayasan. Sore hingga malam berdagang kecil-kecilan. Menjelma sebagai mesin uang seoptimal mungkin. Pada kedua buah hatinya diletakkan semua harapan. Membekali mereka dengan senjata agar tak sulit bertahan hidup. Tak mudah menjadi ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Setiap bertambah usia, getir memandang perubahan. Bergelut dengan amarah, gelisah, ketakutan, khawatir yang sangat pada harapan hidup yang lebih yang tampak seperti kabut.

Kemenangan adalah milik mereka yang bersiap. Selain rencana, satu lagi bekal terakhirnya; tak akan mengalah pada nasib.

Waktu berlalu. Hari demi hari. Tahun ke tahun. Kerut pada wajah menjadi jejak semua letih dan usaha. Tak ada yang sia-sia dalam hidup. Semua berharga. Sekecil kerikil pun bisa merusak timbangan. Sebutir beras pun akan menjadi hitungan. Benar adanya, siapa yang menabur dia yang akan memanen. Sekarang usianya 55 tahun. Tak muda lagi.
Ini waktu memetik apa yang disemai, di pelihara dan disiapkannya. Kedua anaknya memang tak penuh seperti harapannya. Tapi Tuhan selalu punya cara membalas apa yang kita usahakan dengan sungguh-sungguh. Lebih dari yang bisa kita ramalkan.
Tentang gemilang waktu mudanya yang bahagia memang tak pernah datang lagi. Tapi ketika kita bisa memaafkan masa lalu dan membuka hati untuk kebahagia baru, kita akan menemukan bahagia lagi.
Dia duduk disana. Di teras rumahnya yang sederhana. Melihat ke langit sore berwarna keemasan. Senja yang lama tak dia izinkan mengunjungi hatinya. Kini ku paham bagaimana tubuh paruh baya itu menahan dingin bulan Desember ini. Tempaan dalam hidup menbuahkan semangat yang tak bisa lapuk dan tua. Semangat. Harapan. Itulah selimut ampuh.

Memang tak mudah memaknai hidup.
Memahaminya, adalah pekerjaan panjang bersama waktu.
Dia menarik nafas lega. Tersenyum lagi. Terlihat seperti rasa bahagia.


(selamat hari ibu, mamak ku...)

Senin, 28 November 2011

Di ujung batas


Aku percaya pada ilmu pengetahuan. Aku percaya pada perubahan. Aku percaya pada dunia yang selalu mengikuti kodratnya. Pada nilai yang selalu tak pernah konstan. Suka atau tidak suka, terima atau tidak terima, waktu terus akan berlalu. Perubahan akan terus terjadi. Tapi kau boleh memilih sesukamu. Berjalan bersama perubahan, atau diam dan tertinggal.

Alam menyediakan banyak hal untuk kita pelajari. Menjadikannya senjata, pengetahuan, yang kita gunakan untuk terus hidup. Hal-hal yang membawa peradaban dan merubah wajah dunia. Berapa harga perubahan?
absurd! Se-sakral tangis dan darah pejuang republik ini untuk merdeka tapi sesinis koruptor merampok dana kesejahteraan rakyat miskin. Seharga ribuan nyawa yang mati karena virus influenza yang tak ada obatnya ratusan tahun lalu, atau semurah Rp 1.500 perak untuk 4 tablet obat flue di toko kelontong.
Sesukamulah memaknainya.

Tapi waktu mengajarkanku banyak hal. Tak selamanya akal berguna. Tak selamanya nilai muncul dalam kalkulasi untung rugi. Masih ada hal seperti kepercayaan, ketulusan, kasih dan persahabatan yang membuatku berdarah-darah mengarunginya dengan suka rela dan bahagia. Kalau peradaban atlantis menghadirkan teknologi fantastis yang misterius, waktu menghadiahkanku para sahabat menjadi senjataku.

Aku rindu mereka. Mereka yang menghangatkan hatiku hanya dengan mengingatnya.

Pada satu sore yang aneh di pantai yang akrab, buih ombak mengiringku pada banyak ingatan tentang satu sahabat. Tentang dia yang selalu membuatku terkaget-kaget mengikuti kisah-kisahnya.
Ku renangi pantai itu. Tempat ku dan dia biasa menghabiskan waktu menikmati sinar sore. Ku ingat, dia selalu riang dengan pantai. Pantai yang selalu di rindu. Berenang lihir mudik seperti lumba-lumba sampai lelah. Lalu berbaring di pasir menyalakan rokok dan menghembuskan asapnya sepanjang nafas. Meresapkan masa lalu ke dalam dada, menjadikannya tenaga untuk masa depan yang juga tak tertebak.
Ku selalu suka saat kami meniti jembatan rajutan berbahan batang pohon kecil menuju panggung bagan tempat nelayan memancing. Berdiri di tepian bagan, merasakan deru angin disela telapak kaki. Memanggil untuk terjun ke laut yang beriak, memicu keberanian diri. Itu adrenalin. Aku kenal dirinya. Dia yang seperti buku yang sering ku baca. Tentang haru-biru, mimpi, pencarian arti hidup dan segala keriuhan, hanya saja ceritanya tak pernah berhenti. Selalu berlanjut sampai waktu yang kita tak pernah tahu Juga sekumpulan senyawa adrenalin di tiap tetes darahnya. Dia mengenggam tanganku. Melihat ke arahku, lalu mengajakku terjun bersama.Aku percaya padanya. Pada jalan, arah, kehendak, serta pilihan yang berserakan, dia akan memilihkan yang terbaik untukku. Membantu melewati batas ragu dan ketidakberanian. Kami terjun bersama ke riak air laut itu. Membantuku melewati ketidakberanian, berenang ketepian dan tertawa sampai kehabisan nafas.
Masa itu adalah emas. Masa dimana mimpi terasa tak jauh dari gapaian. Kita adalah raja untuk pilihan kita. Tak ada batas.Bersulang bersama untuk segala hiruk-pikuk. Meski kita tahu, waktu mengintai kita dengan segala konsekwensi.

Aku percaya pada perubahan.
Pada tiap detik waktu yang bisa saja merubah apa saja meski tak ada kebetulan. Semua adalah proses panjang sebab-akibat yang saling bertautan.

Tapi ketika banyak hal berubah, apakah masih ada yang tinggal dan bisa gunakan sebagai senjata?
Sore tadi, ku titi jembatan rajutan panggung bagan itu lagi. Sendirian. Berdiri di pinggir panggung bagan, merasakan angin di sela jari telapak kaki. Mengingat ragu dan ketidakberanian melihat ke bawah. Pada riak laut yang memanggil. Teringat pada dia yang mengenggam tanganku, menyakinkan semua akan bak-baik saja.
Tapi aku hanya sendirian.

Satu kawan pernah berkata, ”waktu tidaklah abadi. Kitalah yang abadi”. Ku pikir dia seorang eksistensialism tapi kini ku mengerti maknanya.

Sahabat.. waktu kadang membenturkan segala kepentingan dan perasaan. Tapi selama kita masih mampu pengingat, kenangan baik tentang kalian ternyata lebih hebat dari logika. Lebih berguna dari nasehat penasehat hukum, konsultant, motivator, sufi, cendikiawan sekalipun.
Cukup percaya. Dan tak perlu logika untuk percaya.


Aku melompat. Melewati ujung batas kemampuanku. Merasakan hal baru.
Seperti waktu itu. Seperti waktu melompat bergandengan dengannya.

Minggu, 20 November 2011

Mari tiup lilinmu, sayang..


“Selamat ulang tahun sayangku..”aku mengucapkannya sama seperti orang lain yang mengucapkan selamat padamu di facebook,twitter atau jejaring social lain, rekan kerjamu di kantor, keluargamu atau kenalan-kenalanmu yang lain.

Sayangku,..hal apa yang menarik dari sebuah “ulang tahun?”. kamu, kita, secara rutin merayakannya di setiap kali bumi berhasil mengelilingi matahari ;365 hari lewat 6 jam; yang disamakan dengan ukuran waktu 1 tahun. Selama melawati kurun waktu itu, bumi seperti menegaskan keberadaannya dalam jagat raya ini. Memastikan kembali bahwa ia ada dan masih akan berusaha mengelilingi matahari lagi, meski itu berarti harus berputar selama 365 hari lewat 6 jam lagi.
Bagaimana dengan kamu?

Putaran waktu membawamu ke usia 25 tahun. Tak banyak sejarahmu yang ku tahu, selain 4 tahun belakang. Bukan waktu yang pantas untuk memotret utuh perjalananmu sampai di titik ini. Tapi minimal, satu sisi mampu ku rekam. Mengingatmu dan merunut klausalitas jejakmu untuk menuliskan ini.

Pada sepupuku kesayanganku;vika, kami selalu berkata ”masih tentang bertahan hidup”. Tentang kesadaran bahwa hidup yang seperti pertempuran, tentang medan perperangan yang tak selalu bersikap adil dan tentang keterbatasan yang nyata. Hidup ini memang bicara tentang bagaimana cara bertahan hidup. Tapi setidaknya jika semua orang di planet ini adalah petarung, aku bukan petarung yang sendirian..berkali-kali kami saling memapah jika terluka. Bergandengan ketika kalut. Dan terkadang merayakan kemenangan bersama.

Kepadamu ku tak bisa berkata lain. Kita juga masih akan bicara tentang bagaimana bertahan hidup. Tentang kenyataan bahwa ternyata kita masih tak memiliki apa-apa, tentang jalan di depan yang terjal dan tak tertebak, tentang kecemasan yang jujur tak bisa kita sembunyikan.

Aku berharap banyak padamu. Pada ketabahan, kesabaran, kesetiaan, loyalitas dan integritas yang aku sendiri tak bisa ungkapkan.
Aku butuh kamu untuk berlari bersamaku. Di tengah hujan yang kadang bukan berisi air, tapi panah dan peluru tanpa ada tempat berlindung dan upaya selain menerimanya dengan gagah. Karena aku tak percaya takdir. Takdir adalah milik mereka yang memang dilahirkan beruntung atau mereka yang menyerah sebelum bertahan. Kita tidak dilahirkan untuk menjadi seorang yang sudah ditentukan. Satu-satunya nasib yang tidak mungkin kita elakkan hanyalah kematian. Sisanya bukanlah takdir. Tapi sebuah sebab-akibat yag saling bertautan. Tuhan memberi kita hidup, menunjukkan banyak hal untuk kita melewati dalam hidup, tapi menyerahkannya kepada kita untuk menentukannya. Kita yang memilihnya. Menyia-nyiakannya atau memanfaatkannya sebaik mungkin.

Sayangku, aku butuh mencintai kamu dengan karaktermu yang kuat..karakter yang hanya kamu yang punya. Karakter yang tak akan bisa dicuri orang, tak pudar oleh waktu justru semakin baik. Buat aku semakin mencintai itu.
Sebab yang lain tak akan berarti lama. Penampilan bisa berubah. Teman datang dan pergi. Kekuatan, kecepatan, kelenturan tumbuh dalam beberapa waktu saja. Selanjutnya bersama waktu itu akan semakin melemah, melamban dan canggung. Tentang kepandaian dan ketenaran, yakinlah akan selalu ada yang lebih pandai dan lebih tenar.

Sayangku..
Aku hanya ingin mematri kembali eksistensimu. Di siklus perjalananmu.
Menjadilah kuat. Setidaknya untuk dirimu sendiri. Berjanjilah padaku tak ada yang akan membuatmu menyerah pada nasib walaupun dunia berkonspirasi melawanmu.
Tak perlu takut. Jangan simpan ragu.
Aku disampingmu. Siap memapahmu jika kau letih.
Karena setelah itu kamu harus berlari lagi..sekencang-kencangnya angin membantumu mengejar mimpi.

Selamat ulang tahun..genapi doamu dan tiup lilin itu..”

Senin, 24 Oktober 2011

let hurt ourselves


Apakah kau memiliki benda yang paling kau sayangi? Seperti barang yang sakral bagimu, bagian dari dirimu dan menyimpan ingatan juga energi?
Aku memilikinya dan tidak hanya satu. Tanpa disadari, ku menyimpannya satu persatu. Semacam mengkoleksinya untuk kesenangan jiwa.

Benda pertama adalah selimut kumal jahitan nenekku. Selalu ada rasa tenang dengannya. Rasanya umurnya sebaya denganku. Dijahit dari kumpulan kain bekas yang tersisa dari baju, sprei, percak rumah kami yang tidak lagi terpakai. Nenekku seperti seniman. Disulapnya benda tak berguna itu menjadi selimut yang ku pakai sewaktu kecil hingga kini. Warnanya ramai sekali. Dia seperti puzle. Ada bagian yang kotak, segitiga, trapesium dan lain-lain. Kepada selimut ini aku menangis, menyembunyikan ketakutan dari ayah ketika dia marah lalu mencari untuk memukulku. Kepada selimut ini aku menceritakan rahasia kecil. Hal-hal yang akan membuat ibu membentak atau hal-hal yang membuat ayah menamparku keras.

Yang kedua adalah foto nenek. Benda yang menyimpan kenangan. Tak ada yang lebih indah dari kenangan baik bukan? Nenek adalah orang hebat. Dia tua dan renta tapi sanggup menahan derasnya bentakan ibu kepadaku. Dia tak mampu lagi membelah kayu bakar untuk kami memasak tapi mampu membentengiku dari pukulan dan gebukannya. Ketika nenek meninggal, sulit merasa bahagia. Bahagia itu adalah waktu dimana nenek mengusap rambutku dan berkata ” cah bagus, hiduplah dengan sabar dan ikhlas”. Aku tak paham maksudnya tapi ku rasa dia memintaku untuk bertahan dan tidak menangis kalau ayah dan ibu memarahiku.
Walau ku tau dia bukan nenekku tapi aku menyayanginya. Ketika aku berumur 10 tahun, aku mengerti perkataan ayah ketika aku melakukan kesalahan dan itu membuatnya marah. ” dasar anak pungut tak tau diri!”. kesalahan kecil saja, misalnya menumpahkan air minum, memecahkan gelas, minimal itulah ucapannya padaku. Lambat laun ku mengetahui kalau aku adalah bayi yang di ambil mereka dari rumah sakit. Anak pungut itu rupanya sama dengan barang yang ditemui di pinggir jalan. Menjadi milikmu dan bisa kau perbuat semaumu. Menunjukan rasa sayang dengan amarah, menjaga dengan perintah atau melindungi dengan ancaman.
Satu manusia yang bicara dengan kelembutan adalah nenek. Tanpa dia, aku merasa melalui seminggu tanpa hari minggu. Tanpa ada yang melegakan.

Benda yang ketiga adalah palang pintu depan rumah kami. Dia tak panjang. Tak sampai dua meter. Lebarnya hanya sepuluh centimeter. Dahulu, tak ada yang lebih menakutkan dari benda itu. Kalau anak-anak seumurku dulu takut pada hantu, seperti itulah ketakutanku pada benda itu. Malah lebih! Itu adalah senjata ayah untuk memukulku. Tiga kali pukulannya dengan benda itu, esok hari sudah di pastikan aku tak akan masuk sekolah. Sakit sekali. Pernah satu kali aku terlambat pulang bermain. Biasanya setelah usai sembahyang magrib dan mengaji, aku sudah harus di rumah. Tapi kali itu ku ikut bermain kejar-kejaran di halaman surau. Di rumah, ayah sudah menungguku dengan palang pintu itu. Sekali saja pukulannya merontokkan gigi gerahamku. Aku tak sadarkan diri seiring teriakan histeris nenek.

Selimut dan foto nenek ada padaku. Seiring waktu yang seperti anak panah, aku tumbuh dewasa. Terbiasa dengan amarah orangtua angkatku, menerima kekerasan itu seperti sentuhan biasa. Menikmati luka dan hantaman seperti sensasi tersendiri. Selalu rindu untuk merasa terlukai. Ada hentakan-hentakan pada aliran darah, seperti adrenalin yang berkejaran deras pada detak di nadi, memacu jantung, menikmati kesakitan. Itu sedikit-sedikit terasa nikmat. Aku menyukainya.

Sementara kayu palang pintu itu entah dimana. Ku sudah lama tak melihat rumah. Akan ku temukan dia. Benda itu adalah harta karun bagiku.
Ada 1 benda yang ingin ku koleksi. Satu benda yang juga sakral dan penting bagi hidupku. Pisau dapur ibu yang ku pakai menikam ayah. Pisau itu tajam, jadi ku tikam ayah berkali-kali agar dia segera mati. Aku membunuhnya bukan karena alasan. Dia terasa tak lagi seperti ayah yang dulu. Tak lagi menakutkan dan tak lagi memberi rasa sakit. Tugasnya sudah selesai. Dia sudah seharusnya tak ada. Kewajibanku untuk menghilangkannya. Aku suka melihatnya melotot kesakitan. Itu pasti rasa sakit yang nikmat sekali.

Aku rindu pisau itu. Rindu pada energi kesakitan ayah. Ku bayangkan benda itu ada di dalam ruang kamar sempit ini. Ku letakkan pada jendela jeruji itu. Menemani matahari pagi yang datang agar juga menyinariku dengan bayangan kesakitan yang indah.

Minggu, 23 Oktober 2011

yendra


Aku adalah gambaran dari seseorang bernama Yendra. Laki-laki. Umur 30 tahun. Ada banyak sosok yang menyenangkan dalam diriku. Pemuda yang jatuh cinta, pandai merangkai kata, humoris, pandai bergaul, ramah, punya selera seni yang baik, disenangi banyak teman. Setidaknya itu pernah ada pada gambaranku dalam ingatan orang.

Aku lahir dalam keluarga normal yang bahagia. Ayah ku seorang pegawai negeri, dan ibu adalah perempuan penyayang. Aku memiliki 2 saudara laki-laki. Aku si bungsu. Kami dibesarkan dengan kehormatan, doa dan harapan.
Tapi hidup adalah hidup. Tanpa ada seseorangpun yang mampu menebak. Jadi, berhentilah membaca ramalan zodiak. Itu semua sampah!
Ada yang berbeda dalam pikiranku. Aku membaca dunia dengan cara yang berbeda. Benar-benar berbeda. Kamu tau artinya menjadi berbeda?
Itu seperti berdiri di tengah jalan dengan pakaian badut, dan orang-orang melihatmu dengan pandangan aneh. Setelah itu, konsekwensi orang aneh adalah tercerabut dari lingkungannya sendiri.

Sebagian lebih bijak memandangku. Mereka bilang aku ”sakit”. Lebih terasa halus daripada menganggapku gila. Sakit adalah tidak sehat. Kondisi yang selalu di hindari orang. Dan penderita sakit, tak lebih dari orang yang tidak mampu menjaga dirinya. Sejak itu ku sadar, aku sudah terkucilkan.
Kawan, siapa yang mampu menolak kesialan? Kalau ini tak mau di sebut takdir, anggaplah aku dalam kesialan. Menjadi ”gila” dalam pengertian medis dan sosial. Siapa yang mau menderita? Apa kelainan berpikir dan merasa ini sudah di gariskan untuk ku? Aku mungkin memang sakit, tapi masih bisa merasa dan membedakan sebuah kesukaan dan derita. Kesukaan seperti di sayang dan dipedulikan, seperti mendengar petikan gitar yang lembut, seperti hembusan nikotin yang ku hisap dalam-dalam, seperti memandangi matahari tenggelam atau seperti perasaan ysng bergejolak waktu ku mengoreskan warna pada kanvas. Derita itu seperti tatapan sinis yang selalu membuatku takut, seperti perasaan ditinggalkan, seperti kegelisahan melihat jarum suntik saat ayah meninggalkanku beberapa lama di rumah sakit jiwa itu.

Aku adalah gambaran dari seseorang bernama Yendra. Sebagian dariku masih tinggal disana. Sekotak ingatan ikut tenggelam bersama. Perlahan tapi pasti, semakin dalam tenggelam. Sama seperti tatapan para kawan lama yang melihat sedih padaku. Itu adalah ucapan selamat tinggal. Mereka membunuhku dengan kesepian dan terabaikan.

Aku masih tetap tinggal disana. Dalam sedikit ingatan orang-orang yang mau mengingatku dan ingatanku yang semakin sedikit tentang orang-orang.Tak mengapa. Setidaknya aku akan sibuk dengan dunia dalam pikiranku. Menikmati kesukaanku dengan caraku.

Rabu, 19 Oktober 2011

tentang kekalahan



Dalam hidupnya, tak ada yang lebih baik dari sore yang hujan. Apalagi turun kabut. Langit jadi gelap gulita. Tak perlu ada sore yang mewah dengan kemilau keemasannya. Biarlah hari cepat berlalu karena malamlah yang selalu ditunggu.
Malam adalah teman. Setidaknya untuk hati dengan luka dan kepahitan. Apa ada teman yang lebih baik untuk kesedihan selain malam yang sunyi? Sore hanyalah milik para petarung. Walau hanya sekejab, merasakan sore yang indah adalah perasaan berhasil melewati hari. Bertarung dengan waktu dari pagi sampai tiba sore; si akhir terang. Mengadu pikiran dan tenaga untuk berjuang. Demi hidup. Keluarga dan harapan. Sore adalah kebahagian atas keberhasilan melewati pertarungan. Sekecil apapun keberhasilan itu. Waktu akan seperti anak panah. Melesat lurus kedepan tanpa bisa dicegah. Meninggalkan masa lalu menuju sekarang. Anak panah itu tak datang cuma-cuma. Dia bersama harapan dan akibat. Bersama mimpi atau ketakutan. Dan dia tak lagi memiliki mimpi. Sudah tak kuat bertarung. Saat ini adalah saat menerima ketakutan dan segala akibat masa lalu. Dia meninggalkan sore ketika sore mulai terasa menyakiti. Bersahabat pada gelap, menyimpan kepedihan dan semua kekalahan bersama malam.
Dia adalah pria tua dengan kisah tentang kekalahan. Tentang masa muda yang berapi-api, tentang harga pilihan yang mahal. Sewaktu muda, tak ada yang menjadi kekhawatirannya selain harapan yang tak terwujud. Tak suka menjadi kalah. Hidup adalah tanpa kompromi! Raja bagi kehendak sendiri. Diwaktu tua dia hidup dengan kesepian dan terabaikan. Semua berubah sejak 46 tahun yang lalu, perubahan besar konfigurasi politik tanah air drastis membalikkan keadaan. PKI berada pada tempat yang tersudut dan terus dihancurkan. Anggotanya di buru seperti anjing liar yang berbahaya. Kiprahnya dalam organisasi itu di pulau ini jelas menempatkannya pada posisi genting. Seperti jamak terjadi di daerah lain, dia menjadi bagian sejarah gelap republik ini. Beruntung dia tetap hidup meski setelah itu disesalkannya. Apa menariknya hidup sebagai orang yang terkucilkan? Istrinya meninggal dalam kemalangan. Disusulnya anak-anaknya yang tak mampu bertahan dalam kesengsaraan. Sebatang kara, dengan keluarga lain yang memilih menjauhinya seperti sampah. Tahun-tahun berikutnya adalah keseharian yang selalu sama. Bercocok tanam di kebun harta satu-satunya. Menjual hasilnya untuk tetap bertahan hidup.
Hiburan baginya adalah Mendengar berita dari radio. Menemukan peristiwa-peristiwa unik seperti menertawakan hidup, termasuk hidupnya sendiri. Karena tak ada kejadian baru dalam dunia ini. Semua hanya kejadian yang berulang. Cuma waktu, tempat dan pemerannya saja yang berbeda. Sebagian orang memerankan tokoh yang sama, pada kesalahan yang sama lalu menjalani hidup dengan cara yang sudah-sudah.
Dia menerima kekalahan-kekalahan itu. Hanya berharap malam bisa tetap menemani dia menentramkan sedikit kepedihan seperti dia bisa menerima kesepian dan keterasingan. Berharap waktu itu masih ada untuknya, bersama anak panah yang membawanya meninggalkan segala beban.
Sebab memandang sore pun rasanya itu terlalu mewah.

Senin, 05 September 2011

tanda bahaya


Anggaplah hidup ini seperti hiruk-pikuk ramainya jalanan. kita adalah salah satu pengendara di jalanan yang padat. Bercampur dengan para pengendara lain, dengan berbagai kendaraan yang ditumpangi pada tujuan masing-masing yang tak sama. Sesekali bersinggungan, berderetan pada jalur yang sama, berhenti pada pemberhentian yang sama, atau terjebak di trafiklight yang sama. Tak ada ketergantungan kuat antara satu dengan yang lain. Hanya saling menghargai sebagai sesama pemakai jalan demi terjaminnya kelancaran perjalanan kita. Semua terikat pada aturan main yang ada di jalan. Suka tidak suka, harus tunduk pada pengaturan yang ada. Peraturan jalan, rambu peringatan, polisi lalu lintas, agar semua tetap stabil.
Stabilitas. Dalam banyak ranah, stabilitas adalah utama. Negara ini pernah di hantui oleh pengalaman buruk otoritas negara tentang kata “stabilitas” yang bermakna tegas menindak aktivitas yang mengancam ke “stabilitas”an. Di ranah ekonomi, betapa ketidakpastian kurs juga kebijakan makro, mengancam kepentingan usahawan untuk bangkrut dan jatuh miskin. Stabilitas dibutuhkan semua bidang juga semua orang. Seperti keseimbangan penawaran dan permintaan pada kurva yang menentukan harga. Meresap pada pikiran individu, membentuk sistem tersendiri dalam diri untuk mencari sesuatu yang stabil dan menciptakan ke stabil-an itu sebagai sebuah sistem pertahanan diri. Lumrah, semua orang wajib merasa aman dari resiko, singgungan yang merusak, dan lain-lain.
Dalam pandangan individu yang bebas dan otonom, stabilitas diri membutuhkan banyak fasilitas pendukung. Kedekatan informasi untuk di olah dalam bersikap, bergaining power, perencanaan yang matang, serta senjata; berupa analisa cermat. Homo homini lupus. Peradaban ini tak merubah wajah dunia. Manusia yang satu tetap menjadi serigala bagi manusia yang lain. Stabilitas secara makro adalah keadaan yang menjamin kepentingan individu secara mayor terpelihara. Kaum minor seperti para splinter, adalah bahaya bagi mainstream!
Logika untuk berjaga-jaga mempertahan kondisi yang stabil dari ketidakpastian yang meningkat, melahirkan indikator kewaspadaan. Sebuah tanda bahaya muncul sebagai peringatan. Seperti lampu mercusuar pantai yang mengabarkan tanda, seperti rambu tanjakan untuk pengendara jalan menganti persneling. Tak berhenti sampai disitu, di kehidupan yang semakin dekat dengan keleluasaan informasi, bertuhankan ilmu pengetahuan, banyak peringatan lahir sebagai kebutuhan baru. Masyarakat sosial baru ini, butuh tingkat kestabilan yang semakin detail dan pasti. Mulai dari ramalan cuaca tiap jam, informasi jalur macet, sampai kadar zat kimia dalam kosmetik. Tak apa, itu pun baik. Hanya terkadang terasa kebangetan ketika pola konsumsi dan kewaspadaan terhadap tingkat kestabilitasan konsumsi juga diterjemahkan pada kehidupan sosial. Masyarakat mengkonsumsi tanda bahaya yang terasa terlalu berlebihan. Indikator pergaulan dibutuhkan untuk menjamin mereka bergaul dengan efektif dan tak berisiko. Diperlukan data personal seperti latar belakang keluarga, tingkat pendapatan, pendidikan, kecenderungan konsumsi, sampai kesamaan orientasi. Tanpa sadar, ini menjadikannya berkelompok-kelompok dan elitis. Penilaian pun terkooptasi semakin sempit. Pada harus dan tidak harus berbuat dengan tingkat indikator yang semakin efektif dan efisien yang ditetapkan sendiri. Apa perlu merasa indikator untuk menolong orang lain? Apa perlu para gelandangan dan pengemis jalanan jakarta diberi tanda peringatan “orang yang layak di beri sumbangan”? sampai seorang yang pernah di penjara terasa memakai baju dengan tulisan “mantan penjahat” karena tanda bahaya yang sudah di tempelkan pada dirinya lalu semua orang merasa berhak menatap sinis dan waspada terhadapnya. Seperti kaum yang dituduh komunis di paruh tahun 70an. Mereka lebih ditakuti dan dijauhi dari pada anjing liar.
Sulit memang.. setiap orang berhak merasa aman dan waspada terhadap apapun. Tapi bukan berarti harus menjadi panaroid dan berprasangka buruk bukan? Hidup ini terlalu pendek dijalani dengan ketakutan-ketakutan. Apalagi ketakutan yang salah kaprah.

Sabtu, 03 September 2011

Lelaki yang memiliki dan dimiliki kampungku


Namanya ferry.
Banyak orang mengingatnya dengan beragam ingatan. Seperti juga aku yang mengingatnya dengan ingatan tersendiri.
Ini adalah kisah tentang dia.
Sebuah kisah tentang hidup yang tak pernah tertebak.

Temanku lahir di tengah-tengah ketidakmapanan, kesemerawutan sosial yang timpang. Bapaknya seorang buruh pabrik lepas di perusahaan timah yang sewaktu itu adalah raksasa pemakan segala. Sangat berkuasa dan berpengaruh di paruh waktu 80-an. Perusahaan timah pada waktu itu adalah gurita yang mencengkram pulau. Tak ada yang bisa luput darinya. Secara makro-mikro. Dari usaha hulu ke hilir, dari besar ke kecil, bentuk produksi ekonomi di dominasi perusahaan timah. Penduduk pulau ini, adalah hambanya. Dari sekolah TK sampai panti asuhan. Dari toko kelontong yang dibina oleh perusahan, sampai pemain bola voly yang di subsidi. Tak ada yang tak punya ketergantungan terhadapnya. Untuk sebagian kecil orang, perusahaan adalah dewa pelindung yang baik hati. Seperti dewi Sri bagi petani di tanah jawa, mereka menyembah perusahaan dan meletakkan perusahaan diatas segalanya.
Yang di sayang si dewa pelindung, hidup dengan sentosa, sementara bagi mereka yang tak mendapat belas kasih si dewa, hidup bagai kasta terendah dalam pembagian golongan masyarakat hindu. Menjadi buruh parit yang menambang pasir setiap hari, atau buruh pabrik yang berteman panas api pembakaran timah. Cepat tua, pemarah dan sakit-sakitan.

Ibunya wanita santun. Tapi lemah seperti kembang putri malu. Kau sentuh sedikit saja akan hilang kuncupnya. Seperti kelahiran temanku, anak terakhir yang menuntut konsekwensi kematian ibunya.
Temanku dibesarkan dalam keluarga miskin dan cacat pula. Sang ayah yang pendiam dan pemarah. Hanya mampu menunjukan perhatian dengan larangan dan amarah. Dia tak sendirian. Dia memiliki lima saudara. Dua lahir dengan keterbelakangan pemikiran, tak mampu bertahan hidup dalam waktu lama di dunia yang terlalu menempatkan kecepatan berpikir daripada kejernihan hati. Satu lagi saudara laki-lakinya bertranformasi menjadi perempuan ketika aku SMA. Terakhir ku dengar kabar dia meninggal, masih dengan atribut transformasi ke-perempuan-annya.
Tinggal dua saudaranya sekarang, satu istri rumah tangga biasa, satu lagi karyawan kebun sawit. Tapi sejak ayahnya meninggal, dia memilih tinggal sendiri.
Sejak kecil, ferry terlihat berbeda dengan yang lain. Orang sekampung tahu, dia selalu bertingkah kekanak-kanakan. Sebagian selalu memaklumi itu. Dia besar tanpa kasih sayang ibu. Tanpa cara perhatian ayah yang tepat. Saudara-saudaranya pun tak mampu berikan itu padanya. Selalu inginkan diperhatikan, dimanja, walau terkesan konyol dan menjadi olok-olokan orang. Hanya saja, kualitas kekanak-kanakannya meningkat seiring dia tumbuh dewasa. Dia hanya sempat sekolah sampai di kelas 3 SD ketika pihak sekolah terpaksa mengeluarkannya karena tak lagi mampu mentoleran tindakan anarkis ferry yang melempari guru matematika dengan batu hingga pingsan. belakangan kami paham, pak guru itu pernah membentak lalu memukulnya. Pak guru itu salah memilih lawan. Ferry pernah membakar rumahnya yang dianggap menyimpan kesedihan, Mengali kuburan belanda yang angker di dekat kampungku, pendam-pendam cina di kampung sebelah, dan beragam keluarbiasaan ferry yang tentu saja tak selalu mampu dimaklumi orang sekampung. Kampungku yang berdekatan dengan pasar, terminal angkutan, pelabuhan bongkar muat beserta atribut kriminalitas lokal kota kecil akhirnya me infeksi ferry. Sangat logis, ferry yang sangat mudah terpengaruh akhirnya bertemankan para brandalan pasar. Resedivis dan bromocoran kelas kampung. Terkadang terlihat dia ikut dalam proyek maling kecil-kecilan. Dari maling hasil kebun tetangga, sampai ke penodongan. Sejak itu, dia memiliki nama belakang. Ferry si ”maling”, sebagai tradisi orang melayu untuk membedakan dia dengan nama ferry-ferry yang laen.
Bisa ditebak, keluarbiasaan ferry semakin fenomenal dari hari ke hari. Dia sudah terbiasa mabuk-mabukan. Pelariannya dalam ketidak dewasaan kasih dan kepedulian dari orang terdekat. Menambah satu lagi nama belakangnya. Ferry si ”pemabuk”. Ketika mabuk, ramailah kampungku dengan kelakuannya. Dia akan bernyanyi dengan berisik bersama nada gitar yang tak tentu arah. Tak perduli malam hari. Terkadang, jadilah dia bulan-bulanan para lelaki kampungku. Di gebukin sampai babak-belur. Tapi ferry semakin eksis!
Ketika ku SMA, kampungku pernah dihebohkan dengan kabar ferry yang pergi merantau. Dijual semua yang dia punya, serta ditambah dengan hasil dia menguras kebun-kebun orang di kampung. Di pergi ke jawa. Satu tujuan yang dia inginkan; menemui Nike Ardilla!
Tak berlangsung lama, tak sampai setahun dia kembali ke kampungku. Tak ada kisah yang bisa ditelusuri dari perjalanan rantaunya. Tapi dibayanganku, ku yakin tetap fenomenal.

Ferry kembali pada kebiasaannya. Pada profesi minornya. Tapi kali ini dia bersolo karir. Jadilah dia pencuri serabutan. Dari panci dapur yang lupa di masukan, mesin pompa air sumur, ayam jago, dan segala rupa. Di kampung sebelah, nama ferry sama terkenalnya dengan nama calon anggota legislatif yang sedang berkampanye. Tapi bukan untuk dipilih mereka, justru malah dicari dan digebukin. Beruntung ferry tak memilih aksi menjadi anggota legislatif saat itu. Karena akan mudah untuk orang-orang mendapatkannya.
Dalam tahun –tahun berikutnya, dia menjadi rutin menghuni penjara. Nama yang lebih manusiawi; lembaga permasyarakatan. Tapi ternyata belum juga memasyarakat kan ferry ke dalam masyarakatnya. Apa penjara bisa memberikan kasih sayang dan mengobati orang sakit hati? Pukulan serta hinaan, caci maki justru membentuknya semakin keras. Keras hati dan pikiran. Bengkok sebengkok-bengkoknya. Semakin menyimpang dari perangai umum, menempatkannya seperti sampah dalam masyarakat. Orang-orang di kampungku melihatnya sebagai perusak nama baik kampung, tanpa mereka sadar tatapan sinis itulah yang memicu perangai ferry semakin buruk. Dia hanya butuh dipedulikan dan lingkungannya menyakitinya.

Lebih dari 4 tahun ku tak lagi mengetahui kabar dan perkembangannya. Aku pergi ke luar kota. Sampai lebaran tahun ini, ku pulang kampung. Beberapa hari yang lalu, ku lihat dia dipinggir jalan. Menenteng karung besar.
Pada malam hari, ku bertanya ke pada mamakku tentang ferry. Dari cerita mamak, ferry pernah masuk ke rumah sakit jiwa. Setelah keluar dari sana, dia terlihat bersih dan gemukan serta dengan satu kelakuan baru yang mengejutkan. Entah apa dan bagaimana dunia merubahnya, mungkin ada sosok seperti madam Theressa yang mengasihi dan membasuh lukanya di rumah sakit itu,sejak itu ferry jadi orang yang lebih ramah. Semua perempuan tua di kampung ini dipanggilnya ”Nyai”. Selalu meminta maaf pada para tetua ketika berpapasan. Mencium tangan! Terkadang, di jumpai ferry duduk terpekur di surau kami. Membantu memetik buah kelapa atau hasil kebun lain, dan menyerahkannya tanpa mau dibayar! Orang kampung bingung dibuatnya. Pernah suatu ketika, dia datang ke rumahku. Bercerita kepada mamakku dia ingin pergi berlayar. Dia bilang, harus punya KTP untuk itu. Tapi dia tak punya uang sama sekali. Di beri uang oleh mamakku, dan beberapa hari kemudian dia datang menunjukkan KTP atas namanya. Berterimakasih dan akan mengabarkan kalau dia nanti berangkat berlayar. Tapi dia kunjung pergi berlayar. Mungkin masih ragu kapten kapal membawanya. Setidaknya, dia menunjukan bahwa dia bersungguh-sungguh dan bisa dipercaya oleh mamakku.
Ferry juga membuat terkejut para cukong cina di pasar. Kegiatannya sehari-hari adalah berkeliaran di pasar. Menawarkan tenaganya untuk diperkerjakan secara serabutan. Kadang, dia membantu mengupas kelapa, kadang di toko kelontong milik cina dan hal yang membuat binggung para cukong cina itu, ferry tak mau dibayar dengan standar upah minimum pekerja serabutan pasar. Dia hanya mau menerima sepertiga dari yang dibayarkan. Katanya, hanya sebesar itu yang di butuhkan dan layak dia terima. Tak membutuhkan lebih dari itu. Orang cina tak kenal perangai seperti itu tapi dengan senang hati terus memperkerjakan ferry disitu.
Perubahan ini terlalu dramatis untuk orang melayu kampung seperti kami. Semua orang di kampung ini tiba-tiba merasa tersentuh, dan memiliki orang unik ini. Anak lelaki yang sudah memperbaiki tingkahnya, polos, hidup sebatangkara, tanpa pekerjaan layak, dengan segala keterbatasan. Tetangga-tetangga mulai sering memperhatikan dia, memberi beras dan lauk-pauk, pakaian bekas, uang atau sekedar berniat menawarkannya makan bersama kalau dia kebetulan lewat di depan rumah. Tapi selalu ditolak olehnya. Dia hanya mau makan dari uang keringatnya. Satu kampung dibuat sedih dalam haru.

Dua hari pasca lebaran, tanpa sengaja ku temui dia di belakang rumah. Sibuk memilih-milih sampah, mengambil sisa kaleng bekas. Ku sapa dia. Ramah dia membalasnya. Ku ulurkan tangan sambil berkata, ”minal aidin, bang..masih lebaran kan hari ini?”
“Wah, dek.. maafkan saya. Tahun ini saya tidak bisa lebaran. Puasa pun tidak. Maklum, sering sakit-sakitan badan ini. Pikiranpun ikut tak jernih. Tak berani saya berpuasa. Tahun depan lah ya kita bersilahturahmi. Mudah-mudahan masih diberi kesempatan.”
Aku tertegun. Jawabannya terlalu hebat untuk ferry yang pernah ku kenal. ”kalau begitu naik lah dulu ke rumah bang.. makanlah dulu bersama kita”..
”Saya sedang berkotor-kotor ini. Di laen waktu lah,dek.. inilah sambilan saya. Kaleng-kaleng ini lumayan untuk dijual. Seribu lima ratus satu kilo. Buat makan saya hari ini.” sambil senyum lalu sibuk lagi memilih kaleng di tempat sampah.
Aku kehabisan kata..refleks ku ingat ada uang lima puluh ribu di kantongku. Ku sampaikan kepadanya, ”untuk beli rokok,bang”.
”..Ah, lebih baik kau berikan pada yang benar-benar membutuhkan. Saya masih bisa mengkais rejeki. Seperti ini. Atau, besok kan hari jum at. Masukkan saja ke kotak amal waktu sholat jum at. Jangan kasihkan ke saya. Tak benar-benar saya membutuhkan.”
dia tersenyum lagi, lalu berlalu sambil bersenandung kecil. Meninggalkanku yang kebingungan dengan sikapnya. Betap hati yang berubah, bisa menyisakan warna-warna indah. Aku larut dalam keharuan.
Rupanya seperti ini juga orang sekampung dibuatnya bingung. Ku berpikir ferry tak benar-benar berubah. Dia masih menyisakan ferry yang pernah kami kenal. Selalu membuat keluarbiasaan dengan caranya yag polos dan sederhana. Hanya saja, kali ini dia tak lagi membuat kami kesal dan mencacinya. Sebaliknya, rasa haru dan peduli yang dulu dia inginkan sejak kecil.
Tak diragukan, kau sudah memiliki dan dimiliki kampung ini, kawan..