Jumat, 18 Februari 2011

Kita memang tak perlu membuat rencana


Sebulan yang lalu, dalam ketidakmengertian aku menerima telpon darinya. Dia menangis, hanya menangis. Tidak berkata. Hanya isak tangis. Terdengar pelan tapi ku bisa merasa sesak yang dia rasa. Aku tak tau dia dimana. Ku hanya tau dia sedih. Perlahan aku mengerti, dia hanya butuh membagi sesak itu. Dia Cuma ingin aku temaninya menangis. Mengucapkan terimakasih setelah merasa sesak itu mereda, dak tak pernah mengabari lagi. Tapi dia meninggalkan kisah.

Sepanjang ingatan dan pikiranku, wanita memang tak terjelaskan. Mungkin tuhan menciptakan wanita untuk terus menjadi pikiran laki-laki yang tak kunjung selesai bisa di pahami.

Kita tak perlu bicara. Hanya cukup saling mengerti.
Ku rasa memang begitu. Di dunia ini banyak hal yang memang tidak bisa di jelaskan. Kadang, sering kali anomali-anomali adalah fakta.
Setidaknya bisa dimengerti oleh kapasitas otak kita.
Sama seperti aku dan dia. Dia datang tanpa perlu menyusun rencana. Menemuiku ketika memang itu adalah waktunya. Seperti apapun waktu itu. Tanpa ukuran kuantitas dan kualitas dunia. Bisa 10 menit ukuran waktu, bisa lebih atau kurang dari itu. Bisa menikmati kehangatan senyumnya atau hanya mengisahkan 10 kata saja. Apaupun itu kita menikmati waktu tanpa rencana. Mungkin benar, rencana terbaik adalah tanpa rencana.
Tiba saat menguraikan kisah, justru itu yang memakan waktu. Seperti prasasti kuno dalam hidupku. Dalam literatur sejarah prasasti biasanya mencitrakan catatan peristiwa atau pengumuman di suatu waktu. dan sejarah dalam hidupku, dia adalah prasasti itu. Meski prasasti itu tersembunyi dan tak mudah terlihat bagi banyak orang, tapi dia adalah catatan peristiwa dan pengumuman dalam hidupku. Meski hanya mencatatkan gelisah dan pencarian. Meski hanya mengumumkan kegagalan dalam pencapaianku.

Kita memang tak perlu menyusun rencana. Seperti kita yang tak harus mendefinisikan kita ini seperti apa. Tak perlu.
Hanya saja, ketika kau tak ada, justru aku yang butuh waktu dan energi menguraikanmu dalam hati. Seperti waktu yang ku habiskan untuk menemukan sisa rambutmu yang tertinggal di tempat tidurku.
Aku mengingatmu.selalu mengingatmu. Gairah itu, kebimbangan itu, dan masa depan yang selalu menantang dan menyisakan kita sebagai petarung.

Semoga kau masih menjadi sesuatu yang tanpa rencana.
Dan berharap waktu mempertemukan kita dalam “rencana” nya.

Tidak ada komentar: