Minggu, 23 Oktober 2011

yendra


Aku adalah gambaran dari seseorang bernama Yendra. Laki-laki. Umur 30 tahun. Ada banyak sosok yang menyenangkan dalam diriku. Pemuda yang jatuh cinta, pandai merangkai kata, humoris, pandai bergaul, ramah, punya selera seni yang baik, disenangi banyak teman. Setidaknya itu pernah ada pada gambaranku dalam ingatan orang.

Aku lahir dalam keluarga normal yang bahagia. Ayah ku seorang pegawai negeri, dan ibu adalah perempuan penyayang. Aku memiliki 2 saudara laki-laki. Aku si bungsu. Kami dibesarkan dengan kehormatan, doa dan harapan.
Tapi hidup adalah hidup. Tanpa ada seseorangpun yang mampu menebak. Jadi, berhentilah membaca ramalan zodiak. Itu semua sampah!
Ada yang berbeda dalam pikiranku. Aku membaca dunia dengan cara yang berbeda. Benar-benar berbeda. Kamu tau artinya menjadi berbeda?
Itu seperti berdiri di tengah jalan dengan pakaian badut, dan orang-orang melihatmu dengan pandangan aneh. Setelah itu, konsekwensi orang aneh adalah tercerabut dari lingkungannya sendiri.

Sebagian lebih bijak memandangku. Mereka bilang aku ”sakit”. Lebih terasa halus daripada menganggapku gila. Sakit adalah tidak sehat. Kondisi yang selalu di hindari orang. Dan penderita sakit, tak lebih dari orang yang tidak mampu menjaga dirinya. Sejak itu ku sadar, aku sudah terkucilkan.
Kawan, siapa yang mampu menolak kesialan? Kalau ini tak mau di sebut takdir, anggaplah aku dalam kesialan. Menjadi ”gila” dalam pengertian medis dan sosial. Siapa yang mau menderita? Apa kelainan berpikir dan merasa ini sudah di gariskan untuk ku? Aku mungkin memang sakit, tapi masih bisa merasa dan membedakan sebuah kesukaan dan derita. Kesukaan seperti di sayang dan dipedulikan, seperti mendengar petikan gitar yang lembut, seperti hembusan nikotin yang ku hisap dalam-dalam, seperti memandangi matahari tenggelam atau seperti perasaan ysng bergejolak waktu ku mengoreskan warna pada kanvas. Derita itu seperti tatapan sinis yang selalu membuatku takut, seperti perasaan ditinggalkan, seperti kegelisahan melihat jarum suntik saat ayah meninggalkanku beberapa lama di rumah sakit jiwa itu.

Aku adalah gambaran dari seseorang bernama Yendra. Sebagian dariku masih tinggal disana. Sekotak ingatan ikut tenggelam bersama. Perlahan tapi pasti, semakin dalam tenggelam. Sama seperti tatapan para kawan lama yang melihat sedih padaku. Itu adalah ucapan selamat tinggal. Mereka membunuhku dengan kesepian dan terabaikan.

Aku masih tetap tinggal disana. Dalam sedikit ingatan orang-orang yang mau mengingatku dan ingatanku yang semakin sedikit tentang orang-orang.Tak mengapa. Setidaknya aku akan sibuk dengan dunia dalam pikiranku. Menikmati kesukaanku dengan caraku.

Tidak ada komentar: