Sabtu, 03 September 2011

Lebaran dan budaya alay


Dari hasil kajianku yang singkat (sangat singkat, Cuma merenung dalam 5 menit), kadar analisa yang lemah (tanpa kawan sharing, literatur dan data pendukung yan lengkap) dan kondisi kekenyangan makan opor daging habis sholat Ied, ku putuskan menulis ini, jadi maafkan jika terasa kurang akademis..

30 tahun menghadapi hajatan nasional bernama lebaran, belum juga merasa cukup memahami resepsi akbar yang satu ini. Diakui ataupun tidak, menjadi orang Indonesia, tak akan asing dengan lebaran. Lebaran adalah milik semua orang yang hidup, besar dan ber KTP Indonesia. Kemarin, lebih dari 20an lebih SMS masuk ke inbox, justru dari teman-teman non muslim yang mengucapkan selamat idul fitri, dan status di FB juga BBM teman-teman itu juga bernada sama. Implisit, menjadi orang indonesia, muslim atau non muslim pun ternyata menikmati lebaran dengan cara mereka masing-masing. Kalau mau melihat akulturasi dan keberagaman yang saling menghargai, inilah momentnya. Ketika lebaran menjadi hajatan nasional begini, sudah wajar moment ini menjelma menjadi kesatuan prilaku individu yang menarik. Bayangkan, budaya mudik lebaran adalah hal wajar. Tiba-tiba jakarta menjadi lengang dalam beberapa hari. Kehilangan kaum migran urbannya yang bergelombang pulang kampung. Berkat lebaran, pemimpin otoritas otonom kota-kota besar seperti jakarta, surabaya dan lainnya tak lagi perlu bersusah-susah me kampanye kan kotanya, sebab para kaum migran yang mudik adalah agen sosialisasi yang paling paten mengkabarkan kota-kota yang menjadi tempatnya mencari uang dengan efektif, dan gratis!lonjakan pengunjung kota besar pasti dimulai pasca lebaran. Desa akan semakin sepi dan kota semakin padat.
Prilaku konsumsi lebaran, bisa di urut dari hal besar sampai remeh temeh. Dari biaya tranportasi mudik, sampai produksi manisan yang mengalami peningkatan permintaan. Menjelang lebaran, hampir semua toko pakaian mengalami lonjakan pendapatan. Pasar tradisional ramai dengan pembeli bahan makanan yang butuh memasak lebih dari biasanya. Sirkulasi uang beredar naik berlipat-lipat dari kondisi biasa. Dalam jangka pendek secara makro perekonomian nasional naik berbarengan dengan inflasi yang juga merangkak mulus.
Hanya saja hidup di republik yang sudah 66 tahun merdeka ini, tidak serta merta memudahkan hal-hal bersifat publik seperti hajatan akbar ini. Dalam ranah ekonomi, dari sejak Adam Smith bicara tentang invisible hand; harga di tentukan oleh permintaan dan penjualan. Semakin banyak permintaan tanpa di barengi oleh ketersediaan barang yang cukup akan berkorelasi dengan kenaikan harga. Sedikit demi sedikit terus meningkat. Dalam bahasa yang gampang; menjadi mahal. Kecenderungan paling buruk dari kondisi tersebut adalah monopoli. Mari kita lihat satu persatu jenis ”konsumsi lebaran”. Apa ada yang tidak mengalami kenaikan harga? Tiket pesawat, naik 2 sampai 3 kali lipat! Tiket bis, kereta bahkan ojek pun berimbas (baik legal atau prilaku calo) menjadi naik. Bahan baku makanan, pakaian, semuanya serupa. Di pelajaran terdahulu yang luhur (baca:ideal) ketika invisible hand berkecenderungan akan merucut pada monopoli dan merugikan kepentingan umum, sudah seharusnya ada visible hand seperti kritik Marx terhadap Smith. Negara sebagai penguasa mutlak kehidupan bermasyarakat lah yang menjadi visble hand. Mengatur, menjamin hal-hal yang berupa kegagalan pasar tersebut mampu tersedia, menyediakannya untuk dinikmati orang-orang sebagai konsekwensi melindungi kebutuhan warga negara. Eksternalitas negatif dari pasar seperti monopoli, infrastuktur publik, keamanan adalah hal-hal umum yang menjadi pelayanan utama. Rumit memang, jangan mengatasi monopoli harga tiket pesawat, melansir liputan Kompas hari selasa tanggal 30 agustus 2011, tentang himbauan kementerian komunikasi pemerintah republik ini untuk jangan terlalu masif mengirimkan SMS dan BBM, menurut saya sangat unik. Di perkirakan ada 2 milyar sms dan 2,5 milyar menit percakapan yang terjadi diantara H-1 sampai H+1 lebaran. Dengan kondisi itu, mutlak akan terjadi kemacetan trafik. Sms akan pending dan melakukan panggilan telpon akan sulit. Pengguna hanphone di indonesia, dihimbau untuk tidak ber Sms dengan masif dan mengunakan layanan internet seperlunya saja. LOL!! Lagi-lagi konsumen yang di minta memaklumi serta membatasi prilaku. Bukan malah menghimbau kepada para operator penyelenggara layanan untuk memperbaiki layanan trafik! Unik sekali!
Mau tidak mau, hidup di negara dengan kepemimpinan dan rasa memiliki tanggungjawab yang rendah, memaksa masyarakat hidup dengan kualitas kepastian yang juga rendah. Dari ketidak becusan pemerintah menentukan hilal, ketidakpastian kapan merayakan lebaran tahun ini paling tidak berimbas pada banyaknya ketupat yang keburu basi karena di masak 2 hari sebelum hari H nya. Bisa dipastikan, karena sudah terlanjur masak besar di tanggal 29 agustus, lauk sahur mayoritas masyarakat indonesia pada tanggal 30 agustus 2011 adalah daging dan ketupat! Gara-gara hilal setitik, rusak rendang sekuali!

Aku salut untuk orang Indonesia. Yang sudah biasa maklum ini. Sekaligus bangga menjadi orang Indonesia. Perbedaan merayakan hari lebaran tetap dimaknai dengan akur dan tenggang rasa. Beberapa aliran, secara tegas tetap merayakan pada tanggal 30 agustus meski pemerintah memutuskan tanggal 31 agustus. Di negara lain, perbedaan mazhab saja, sudah biasa diwarnai dengan peledakan bom dan bunuh-bunuhan.
Hanya saja, ketidak becusan nasional ini sedikit berimbas juga pada prilaku individu yang mulai kehilangan esensi. Temanku Gandung Admaji bilang, hidup saat ini dituntut untuk lebih efisien. Ku sepakat dengannya. Hidup di era teknologi dan peradaban yang maju ini pasti mendorong pada efisiensi prilaku ekonomi dan permintaan baru yang semakin marak muncul sebagai konsekwensi hukum Say. Cuma, efesiensi tidak otomatis menjadikannya pragmatisme. Seharusnya dari sisi konsumsi, efisiensi bersanding dengan satu kata yang dekat denganya, yakni; efektifitas. Lebaran sebagai hajatan nasional yang bersumber pada tradisi islam untuk saling bersilahturahmi, konsep hablumminanass, memuncul budaya mudik. Orang berbondong pulang kampung, sungkem kepada para tetua. Para buruh migran di jakarta bahkan kadang menghabiskan uang yang dikumpulkannya dalam setahun untuk dihabiskan ber-lebaran-an di kampung. Sungguh luarbiasa! Mereka tidak bicara efesiensi untuk hal yang satu ini..efektifitas adalah utama!

Sekaligus agak risih dengan pengalaman 2 hari ini. Begitu banyak Sms. BBM, tag status, ramai datang padaku. Isinya selalu sama. Ucapan minal aidin, mohon maaf lahir batin. Kadang dengan bahasa-bahasa berlebih demi sopan santun dan keindahan redaksi. Risih, karena tiba-tiba saja kata-kata itu seperti tak bernyawa. Kehilangan esensi. Bersilahturahmi, adalah kegiatan saling menjalin persahabatan, kekeluargaan dengan cara saling berinteraksi satu dengan yang lain. SMS,BBM, FB, Twitter, adalah media yang sukses mengekspresikan interaksi secara personal untuk diketahui orang lain yang melahirkan budaya ”Alay” ketika ekspresi lebih menjadi utama dari pada esensi. Tapi ku rasa tak cukup efektif mengutarakan ketulusan yang ada sebagai nilai luhur pada budaya lebaran. Saling bertandang, menjabat tangan, menatap mata, melihat raut wajah, senyum, tawa dan airmata, lisan yang terucap secara live, kurasa tak bisa diwakili Sms,Bbm,Fb,dan lainnya. Aku tak bisa bayangkan senyum bahagia dan airmata haru mamakku tadi pagi bisa digantikan oleh sms panjang beribu karakter kata. Dia akan tetap butuh aku yang nyata, bersimpuh di depannya, meminta maaf dari mulutku sendiri.
Aku ber-empati dan salut kepada prinsip para kaum migran yang rela mudik berdesak-desakan, menghabiskan banyak uangnya, demi lebaran yang sakral. Demi ketulusan yang semakin luntur. Tak menjadi ”Alay”, tak tertular dengan pragmatisme dan konsumerism yang menjebak prilaku semakin menjadi instans. Ketulusan tak pernah instans. Selalu dibutuhkan pengorbanan untuk ketulusan.

Selamat lebaran rakyat Indonesia. Socrates sudah mengingatkan dari 500 an tahun sebelum masehi lalu;”hidup yang tak diteliti adalah hidup yang tak pantas dijalani!”

Semoga sama-sama kita bisa memperbaiki hidup.

Tidak ada komentar: