Sabtu, 06 Agustus 2016

teror kota



Add caption
Sudah beberapa minggu ini kota dihebohkan dengan kegaduhan. Berita di koran, perbincangan di warung kopi, diskusi warga, hingga gosip ibu rumah tangga bertemakan hal yang sama. Kota ini sedang diteror! Bukan teror sembarang teror. Kali ini terornya adalah tentang senirupa! Dua minggu yang lalu, tiba-tiba warga dikagetkan dengan patung besar serupa tokoh legenda daerah berdiri seakan-akan dibangun sebagai tanda selamat datang memasuki kota. Minggu lalu, tiba-tiba saja tanpa pernah dipikirkan oleh semua pihak telah digambar berbagai  corak, gambar, motif dan tulisan di dinding-dinding pusat kota bak lukisan seniman mastro yang mempercantik interior kota. Dan minggu ini semakin gila! semua terhenyak ketika mendapati setiap jembatan utama di pusat kota, pasar induk, dan suasana pusat pertokoan kota sudah dilapisi dengan warna-warna indah lengkap dengan seni instalasi disepanjang jembatan serta lampu hias yang cantik menerangi sungai-sungai yang mengalir membelah kota!
Semua terkejut! Mulai dari ketua RT/RW, camat, kepala dinas tatakota, dinas pariwisata kebudayaan, tokoh adat dan ulama, kapolsek, kapolres, sekretaris daerah sampai bupati merasa tidak senang! Tidak ada perintah untuk melakukan pembangunan dan kegiatan itu! Warga bingung karena tak pernah diundang sosialiasi atas proyek itu. Para penggiat pemberdayaan masyarakat yang biasa disebut pengurus LSM tidak terima karena merasa tidak dilibatkan dan tidak dibagi proyek. Dewan kesenian kota dan dinas kebudayaan marah karena merasa didahului dan tak dimintai rekomendasi. Pihak berwajib dengan tegas menyebutkan aktivitas ini sebagai perbuatan melanggar hukum karena membangun serta melakukan aktivitas  di atas tanah negara tanpa izin dan harus dibongkar!

Alhasil, dengan melibatkan kerjasama yang efektif antara ketua lingkungan masyarakat, babinsa, pihak kepolisian dan jajaran Sat Pol PP, usut punya usut pelaku teror ini merucut kepada satu nama. Mang Maing. Mang Maing dan komunitasnya memang terkenal nyeleneh dan mengemari kesenian. Kadang kala, walaupun tak rutin, mereka sering terlihat mengambar bersama, mengajari anak-anak melukis, membuat pagelaran dan pameran.

Singkat cerita, berdasarkan instruksi pemimpin kota Mang Maing harus diperiksa dan dimintai pertanggungjawaban. Seluruh jajaran aparatur sipil ditugaskan menangkap Mang Maing dan pengikutnya. Satuan Intel kampung bergerak mengendus keberadaan Mang Maing. Tetapi Mang Maing raib! Lenyap dari muka bumi, tak dapat ditemukan! Dicari dirumahnya, rumahnya kosong. Ditempat dia biasa berkumpul juga tak terlihat. Para pengikutnya di interogasi hingga pingsan. Tak satupun yang dapat memberikan informasi akurat dimana keberadaan Mang Maing.
Semakin lengkaplah kehebohan di kota ini! Warga semakin keras meminta pertanggungjawaban pemerintah atas kasus ini. Para pemimpin binggung, para aparat hilang akal menemukan keberadaan Mang Maing. Jadilah Mang Maing sebagai Buronan Kondang. Buronan atas perbuatannya yang dipantang tidak legal, diluar kebiasaan, tidak lazim, tak berkoordinasi, tak meminta restu, tak menghargai pandangan para tokoh budaya, pemangku adat dan pejabat yang berwenang. Berani-beraninya berekspresi tanpa sosialisasi! Ini namanya teror! Dan semua peneror harus dimintai pertanggungjawaban!

Masa berlalu. Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Patung selamat datang memasuki kota sekarang dikenal dengan sebutan patung Mang Maing. Gambar di dinding-dinding kota mulai diperbaharui warnanya dan di mitoskan dengan sebutan karya mural Mang Maing. Jembatan-jembatan yang dulu direspon dengan seni instalasi indah semakin dipercantik dan menjadi landmark kota dengan sebutan jembatan Mang Maing I, jembatan Mang Maing II, hingga Jembatan Mang Maing X. Mang Maing sudah menjadi ikon kota. Legenda kota. Bahkan ada gagasan dari pemerintah saat ini untuk membangun tugu atas dedikasi Mang Maing untuk kota tercinta.

Tapi Mang Maing masih tidak muncul. Tetap hilang dan tak diketemukan.

Tidak ada komentar: